Senin, 04 Januari 2016

Filsafat Ilmu (refleksi ke-6)



Pascasarjana Pendidikan Matematika kelas B
Dosen Bapak Prof. Dr. Marsigit, MA.
Selasa, 28 Oktober 2015 pukul 07.30 - 09.10 di ruang PPG 1 gedung FMIPA
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


“ Mengapa Pikiran Sulit Menggapai Hati “

Ada sebuah pertanyaan filsafat yaitu "Mengapa pikiran itu sulit menggapai hati, dan pikiran itu sulit untuk diungkapkan?", Beliau dengan senang hati menjawab pertanyaan tersebut,"Dalam persoalan filsafat itu ada 2, menjelaskan apa yang kau ketahui? yang kedua memahami apa yang ada di pikiranmu? Semua jawaban itu tidak ada yang memuaskan karena itu bersangkut paut dengan ontologisnya, karena manusia itu bersifat terbatas, manusia itu tidak mampu menuliskan semua pikirannya. Tidak akan mampu memikirkan semua relung hati. Karena itulah manusia itu bisa hidup. Perasaan dan pikiran itu lebih luas daripada laut. Hati itu seluas ciptaan Tuhan jika dikehendaki oleh Tuhan. Kita bisa berempati kepada semua makhluk Tuhan. Itulah keterbatasan manusia. Misal, ketika kita berdoa, pikiran kita harus berhenti. Itulah yang dinamakan ikhlas. Doa yang paling tinggi levelnya adalah dengan menyebut namanya Tuhan. Masalahnya, bermilyar - milyar dirimu menyebut namaNya, belum tentu semuanya dikabulkan. Yah tinggal bagaimana cara kita berusaha, sehingga dalam keadan apapun disarankan untuk menyebut nama Tuhan."
Selanjutnya “Bagaiman cara orang berilmu berpikir multidimensi?”.  Manusia itu suka maupun tidak suka dia pasti akan menembus yang namanya ruang dan waktu. Bukan hanya manusia bisa menembus ruang dan waktu melainkan juga tumubuhan, bebatuan, air dan udarapun menembus ruang dan waktu. Hari ini, hari esok , dua tahun yang lalu, tidak ada benda yang takut terhadap ruang dan waktu, semua pasti akan menembus ruang dan waktu secara dan maupun tidak sadar. Belajar itu mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada, maka setiap yang ada mewakili dunianya. Contohnya, satu kata "ayam", maka bisa dikatakan dunia ayam bahkan bisa membuat buku yang isinya hanya tentang ayam. Setiap kau bisa mengadakan yang mungkin ada, maka bisa meningkatkan satu level dalam dirimu (tergantung keikhlasan)".
Kemudian Pertanyaan mengenai makna dari bijak diri, kemudian Prof. Dr. Marsigit, MA memberikan penjelasan sebagai berikut. Bijak diri itu adalah sopan santun terhadap diri sendiri sesuai dengan ruang dan waktu. Misalnya pada saat mengikuti kuliah, Dosen dan Mahasiswa harus menggunakan pakaian rapi, sopan dan santun sesuai dengan ruang dan waktunya. Maka sebenar- benar bijak adalah pengetahuan itu sendiri. Orang barat menganggap orang bijak itu yang memiliki pengetahuan, semakin ke timur orang bijak itu tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi juga memiliki hati nurani. Maka sebenar - benarnya bijak menurut orang barat, adalah orang yang berilmu."
Beliau menjelaskan,"Saya katakan filsafat itu diri kita masing-masing, diri kita masing-masing itu siapa? diriku dirimu? Karena filsafat itu diriku dirimu, maka mengambil formula bahwa filsafat itu didasari oleh spiritual sehingga tidak melenceng dari spiritualitas masing - masing. Belum tentu mereka punya Tuhan, filsafat itu olah pikir yang refleksif dan menjawab pertanyaan "mengapa". Berfilsafat itu metafisika setelah yang fisik. Contohnya jiwamu, modalmu, karyamu dst. Siapakah sebenar- benarnya saya, diberi waktu yang banyak aku tidak bisa menyebut diri saya. Semakin ke bawah semakin plural, semakin ke atas semakin mono, yaitu kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Semakin ke atas adalah semakin identitas, semakin ke bawah itu kontradiksi. Maka yang kontradiksi para daksa, yang identitas para dewa. Jangan salah paham, ayam itu dewanya cacing, namun cacing tidak bisa melihat kesalahan ayam."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar