Pascasarjana
Pendidikan Matematika kelas B
Dosen Bapak
Prof. Dr. Marsigit, MA.
Selasa, 18 November
2015 pukul 07.30 - 09.10 di ruang PPG 1 gedung FMIPA
Universitas
Negeri Yogyakarta (UNY)
" Berbagai
Kontradiksi dalam Hidup "
Ilmu itu ada di dalamnya kontradiksi. Dalam soal tes tanya jawab, adapula yang berisikan identitas dan identitas masyarakat. Alasan pula jawaban disalahkan karena memang belum sampai pada dimensinya. Maka, pada saat ini juga kami diminta untuk bertanya tentang tes tanya jawab. “Fatalnya vital”, vital itu diartikan sebagai ikhtiar, sedangkan fatalnya adalah doa. Mereka ada dalam satu rangkaian. Doa itu kontekstual dengan ruang dan waktu. Ikhtiarnya doa, jadi berusaha kemudian berdoa seperti ingin naik haji maka harus mendaftar terlebih dahulu. Seperti itulah contoh dari fatalnya vital.Pengalaman bapak Marsigit ketika ditanya tentang doa, apa hubungan doa dengan matematika. Kemudian beliau menjawab bahwa dalam melakukan sesuatu itu penting untuk menyebut nama Tuhan.
Terjawab
sudah semua pertanyaan yang selama ini terpendam di dalam pikiran. Ketika pertama kali saya mengikuti Tes Tanya
Jawab Singkat, pertanyaan mucul dari dalam pikiran tentang jawaban-jawaban dari
tes yang seolah-olah jawaban itu belum pernah terbayangkan oleh saya sendiri.
Apakah semua jawaban itu benar?, jika benar, darimana sumber buku yang
digunakan dalam tes tersebut?, keanapa jawaban yang saya yakini benar tapi
bukan itu jawabannya? Dan bagaimana cara menjawab tes agar tidak mendapat nilai
0?, apakah semua jawaban dari tes itu mberupakan jawban yang tidak pasit?.
Pertayaan itu terjawab setelah Prof. Dr. Marsigit, MA. Melakukan Tes Tanya
Jawab Singkat terahir.
Setelah
adanya tes ini, saya terkejut karena kami diminta untuk menyalahkan semua
jawaban kami hingga tak ada yang dibenarkan. Tentu saja nilai kami semuanya 0.
Namun bapak Prof. Dr. Marsigit, menyalahkan
semua jawaban kami dengna alasan tersendiri, kami tadak mengetahui
apapun. Setelah itu, bapak mulai menjelaskan bahwa sebenarnya tes jawab singkat
itu adalah mitosnya bagi kami semua. Maksud bapak Marsigit mengemukakan nilai 0
seperti ini untuk menyempurnakan, sehingga tidak ada yang memiliki nilai –
nilai yang lain. Bapak menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu disombongkan,
dalam tanya jawab singkat itu sebenarnya berupa penjelasan dengan bahasa masing
– masing. Menurut bapak, tes tanya jawab seperti ini bukan jalannya filsafat.
Filsafat itu membaca dan olah pikir sehingga bapak menghimbau untuk membaca
elegi – elegi dengan ikhlas pikir dan ikhlas hati.
Dewanya
daksa. Subjek dan predikat tidak bisa saling dipisahkan. Jadi bisa diibaratkan
“jika aku ada, maka engkau juga ada” “Disharmoninya harmoni”,”Harmoninya
disharmoni”. Sehebat- hebat manusia itu merasa bahagia, ternyata tidak sampai
mendapatkan kebahagiaan absolut. Manusia itu hidup sempurna dalam
ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan juga ada dalam kesempurnaan. Jika
kesempurnaan itu ada dalam kesadaran, maka akan tidak bebas dalam hidup kita
karena terlalu menyadari semua sesuatu yang terjadi pada diri sendiri. Sikliknya
Linear,“Linearnya siklik”, linearnya itu tidak akan bergerak pada tempat yang
sama. Dan sebaliknya, lingkaran itu juga tidak selalu pada tempat yang sama.
Hari itu berjalan, waktu itu berjalan dan tidak mungkin tidak ada perubahan
dari hari ke hari selanjutnya. “Intensifnya ekstensif”, “Ekstensifnya
intensif”. Pengertian dalam ontologinya itu diuraikan seluas-luasnya.
Intensifnya itu radik, artinya filsafat itu sedalam – dalamnya bisa di
eksplorasi. “Rasionalnya pengalaman”, memikirkan pengalaman.” Pengalamannya
rasional”, jadi ketika kita memikirkan ingin melakukan sesuatu, maka lakukan
sesuatu itu. Analitiknya sintetik, memikirkan pengalaman. Analitik itu logika,
sintetik itu pengalaman. Sintetik itu pasangan dengan apriori.
Filsafat
itu dijalankan, membaca elegi itu termasuk juga melaksanakan filsafat. Membaca
yang membuat kita berpikir itu berarti kita bisa berfilsafat. “Identitasnya
kontradiksi”, “Kontradiksinya identitas”, Misalkan A yang ada pada ruas kiri
sama dengan A + 1. Prinsip ini ada pada ilmu komputer, jika tidak ada rumus ini
maka program pada komputer pun tidak akan berproses. Sehingga identitas ini
mengalami kontradiksi karena sifat itu termuat ke dalam subjeknya. Kontradiksi
di dalam dunia ini adalah kuasa Tuhan, karena kuasa Tuhan itu absolut. Tak ada
yang bisa melawanNya. Karena terjadi seperti itu, maka sebenarnya manusia itu
kontradiksi. Kontradiksinya identitas itu seperti teorema dari Godel,
matematika itu identitas, namun ketika ditambah semuanya, maka terjadilah
kontradiksi. Semua itu merupakan permainan ruang dan waktu. Setelah ditemukan
Godel, maka Hilbert yang mengemukakan (menarik bendera) kepada umum. Semua ilmu
itu tidak bisa selalu konsisten, karena pasti ada kontradiksinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar