Pascasarjana
Pendidikan Matematika kelas B
Matakuliah
Filsafat Ilmu
Dosen Bapak
Prof. Dr. Marsigit, MA.
Selasa, 22 Desember
2015 pukul 16.00 - 17.30 di ruang Aula lt.3 Pasca Baru
Universitas
Negeri Yogyakarta (UNY)
DUNIA INGATAN DALAM FILSAFAT
Apa sebenarnya makna dari
memengingat? Apa bedanya ingatan anak kecil dan ingatan orang tua? Sekarang
dunia ini namanya dunia ingatan, ingatan yang dikombinasikan dengan sifat yang
lain, ingatan dalam pengertian tidak berpretensi apapun, ingatan dalam artian
bertujuan, ingatan yang netral dan ingatan yang tidak netral. Semua orang
biasanya menggunakan bahasa analog, teknologi juga bahasa analog, makanya
ketika orang menciptakan koputer, computer ada tiga komponen, yaitu Arithmetic
logical unit yang bisa berpikir, yang bisa membedakan dan bisa mengurutkan, Storage
unit untuk menyimpan data , Control unit yang digunakan untuk mengendalikan.
Memori itu ada dua macam, Read Access Memory
dan Read Only Memori ada listriknya mati, maka dia hilang dan jika
listriknya mati ada yang masih ada data yang tersimpan. Lupanya computer bisa
digambarkan seperti itu, makanya ketika computer di off kan atau di sleep ada
yang yang tidak tidur misalnya jam yang ada dalam computer, memorinya tidak
hilang. Ada yang di hapus tapi memorinya tidak hilang tapi bisa diliat dengan
teknologi lain, itulah yang disebut dengan ingatan. Berfilsafat itu membuka
kemungkinan yang ada dan yang mungkin ada, jadi tidak terlalu memaksa harus
begini, bagaimana dan dari sudut pandang mana dulu. Dari sisi filsafatnya,
berarti lupa ontologis, lupa epistimologis, lupa aksiologis. Maka ada
ontologisnya lupa ada ontologinya lupa, epistimologis lupa, dan aksiologis
lupa. Apistimologi lupa dan lupanya epistimologis, maka pertanyaan yang
dimaksud disini merupakan gambaran tentang dunianya lupa, maka anak kecil bisa
lupa, orang tua bisa lupa, murid bisa lupa, guru bisa lupa, pemimpin bisa lupa,
dan dewapun bisa lupa. Kalau dewa lupa itu merukan sesuatu yang bijaksana
sedangkan kalau murid lupa itu bisa dikatakan tidak pandai. Itulah bedanya
antara dewa dan jaksa, kalau dewa lupa itu dikatakan bijaksana kalau jaksa yang
lupa bisa dibilang bodoh. Secara sikologi, macam-macam sikologi, ada dari unsur
genetika, sikologi genetika berhubungan dengan kedokteran, lupa dalam arti
mekaniknya dari lupa yaitu otak, bisikan, dan memori (tidak ada lagi ingatan).
Kalau dalam fisafat yang memikirkan
itu berdimensi, yang berdimensi yang memikirkan itu memikirkan hal yang
berdimensi pula. Artinya anak kecil bisa berpikir tentang lupa, premature
artinya secara elementer kita bisa berpikir tentang lupa, kita bisa memikirkan
lupa dari sisi pisikologi, kita bisa memikirkan lupa dari sisi filsafat, kita
bisa memikirkan lupa dari sisi spiritual, itu artinya dari sisi kita itu
berdimensi, lupa juga berdimensi. Kalau dijalankan dimensinya intensif, lupa
dengan struktur lupa material, lupa formal, lupa normatif, lupa spiritual.
Kalau disintetikkan lupa di sini lupa di sana, lupa kemarin, lupa sekarang dan
lupa yang akan datang.
Memiliki kemampuan mengingat
ternyata memiliki kompetensi yang baik dan dapat membantu dalam proses
pembelaran yang membantu dalam ingatan. Kalau dalam spiritual, ingatlah yang
baik-baik, dan mengingat yang jelek untuk belajar dan kemudian dilupakan.
Ingatan dan lupa ibarat ying dan yang, ada yang dilupakan dan ada yang harus
diingat. Dari sisi epistimologi untuk mengingat, apakah tidak ingat itu lupa
apakah tidak lupa itu ingat? Bila mana tidak lupa itu ingat? Maka sebenar-benar
filsafat itu adalah penjelasan yanga ada dalam pikiran dan hasil dari
pengalaman (intuisi). Dunia lupa tidak mungkin kalau tidak ada dunia ingat, di
dalam lupa ada ingat di dalam ingat ada lupa, karena tidak mungkin mengatakan
lupa kalau ingat, dan mengatakan ingat kalau tidak lupa. Sebenar-benar terjadi
adalah berpikir itu merupakan pengalaman, dan memperoleh pengalaman karena
pikiran, karena sebenar-benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman.
Menurut Immanuel Kant ciri-ciri pikiran itu logis, analitik, apriori sedangkan
iri-ciri pengalaman itu sintetik, aposteriori. Sebenar-benar hidup adalah
interaksi antara lupa dan ingat, tidak adalah sebenar-benar lupa tanpa memuat
ingat dan tidak adalah sebenar-benar ingat tanpa memuat lupa. Kalau mengingat
sesuatu pasti ada yang dilupakan, karena mengingat itu adalah reduksi.
Dalam kemampuan spiritual lupa dan
mengingat itu merupkan keterampilan yang penting, orang yang sehat itu memiliki
kemampuan untuk mengingat dan melupakan. Kalu dia tidak mampu melupakan sesuatu
ini tanda seorang yang tidak sehat, maka ada metodologi dan cara untuk
melupakan dengan melakukan kegiatan yang lain. Ketika sedang berdoa, dalam doa
itu mengingat Tuhan dan melupakan semua yang berhubungan dengan urusan dunia.
Tapi ketika dalam doa itu terus menurut dalam keadaan mengingat maka dikatan
sombong, karena doa itu merupakan miliki Tuhan. Makna dari doa itu “Hijrah dari
doa olehku dalam ingatan dan pikiranku kemudian doa olehnya di dalam kuasanya”,
kalau doa masih oleh ku dalam pikiranku dan oleh kuasaku, apabila ada ku di
dedepannya maka kita akan terlempar dengan kesombongan, karena kesombongan
merupakan sumber bencana. Maka ada lepel dimana ketika doa ditransper, pikiran
melupakan segalanya.
Ingatan yang tidak netral (biasanya
ingatan yang tidak netral ini berhubungan dengan rasa terauma terjadi pada
seseorang yang apabila ingatan itu muncul ia merasa takut) dan dan ada juga
ingatan yang memiliki muatan (ingatan yang apabila diingat seseorang bisa
bersedih akan suatu yang diingat tersebut). Kemudian dari sisi strukturnya itu
wadah dan isi, wadah ingatan itu apa dan isi ingatan itu apa. Misalnya kalau
melihat warna merah teringat pacar lama, ternyata warna merah itu wadahnya dan
pacar itu merupakan isinya. Kemudian dari strukturnya ada singular, dual,
plural yang saling keterkaitan dan ingatan itu merupkan struktur. Kalau ditarik
dalam bahasa ada yang majmuk dan ada yang tunggal bisa dikaitkan seperti itu
ada majmuk setara dan ada majmuk bertingkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar