Pascasarjana
Pendidikan Matematika kelas B
Dosen Bapak
Prof. Dr. Marsigit, MA.
Selasa, 18 November
2015 pukul 07.30 - 09.10 di ruang PPG 1 gedung FMIPA
Universitas
Negeri Yogyakarta (UNY)
FILSAFAT
KONTEMPORER
Filsafat
itu merupakan aliran pikiran, seperti hermenitika merupkan filsafat kontenporer
seorang gadamer yang mengekspos, tati penomenanya sudah aja sejak dulu. Orang
ragu-ragu itu sudah ada sejak jaman yunani dan keumudian diekspos oleh
deskartes kemudian diekstrimkan karena mempunyai pengalaman yang benar-benar
ekstrim karena tidak dapan membedakan mimpi dan fakta, dan kenyataan. Hal ini
dimungkinkan karena konteknya, jadi mimpi pun hamper saman dan situasinya juga
sama. Intisarinya adalah meragukan yang mungkin ada dan yang ada dan mencari
kepastian dan apa yang pasit. Hermenitika itu meruapakan dialegtika, filsafat
itu ada batas-batasnya juga. Pada zaman Yunani, sebutan itu ditujukan kepada
Hermes, dia disamakan dan disetarakan dengan Nabi Adam. Hermeneutika juga
digunakan untuk menerjemahkan kitab-kitab. Dalam mendefinisikannya kita juga
harus faham, dengan memberi arti/ maksud secara implisit.
Tentang
Hermeneutika dalam konteks agama dan kitab suci. Semua tergantung ruang dan
waktu konsepnya, semua tergantung rumus, Kalau filsafat itu terlalu singkat
maka sangat menyakitkan untuk orang lain. Mengembangkan formula pada
hermeneutika. Fennomena saintifik itu fenomena menukik/ menajam. Contohnya
saja, Jika kita ingin tidur, maka ada 3 macam gaya. Hidup itu fenomenya
lengkap, pilarnya itu menukik, mengalir dan mengembang. Kalau orang barat itu
linier, maka bijaksana orang barat itu dapat mencari sampai ke mars. Hidup itu
seperti spiral, harii ini ketemu rabu, besok ketemu rabu. Semua itu untuk kita
bersyukur. Hidup itu membangun kepercayaan, keluarga, rasa cinta. Maka semua
itu butuh ilmu untuk membangun itu semua.
Selanjutnya
mengenai Theisme, percaya pada Tuhan. Jika Pantheisme itu satu TuhanNya. Orang
jepang itu memiliki banyak Tuhan, Tuhan Gunung, Tuhan Laut, dll. Tanpa disadari
saat ini kita telah memiliki tuhan yang banyak, sesuatu yang disukai, fanatik,
hingga maniak. Tuhan harta, jabatan dan pangkat. Setiap hari yang dipikirkan
adalah itu semua. Humanisme dalam filsafat dengan psikologi berbeda. Dalam
psilkologi itu manusiawi, jika filsafat itu berpusat kepada manusia. Berarti
Tuhan di marginalkan. Pemikiran itu memiliki dimensi, memiliki batas, memiliki
makna. Itulah pentingnya membaca agar mengetahui dimensi dan strukturnya,
sesuai dengan ruang dan waktunya. Dari beberapa fenomena di atas, dapat
disimpulkan bahwa filsafat itu memiliki kehidupan, makna, arti. Filsafat yang
belum dibuktikan itu adalah mitos, dan yang sudah terbukti yaitu logos. Pertanyaan
tentang etnomatika, Etnomatematika merupakan pembelajaran matematika berbasis
budaya. Itu salah satu bentuk untuk memperkaya pondasi pendidikan matematika
dengan cara menggali budaya dan harus berorientasi pada siswa dan jika tidak
berorientasi pada siswa maka tidak bisa. Pembalajaran dengan etnomatematematika
harus menggunakan pembelajaran yang inovatif, kreatif,efektif, berorientasi
pada siswa dan memenuhi kebutuhan siswa. Kalau gurunya memberikan pendidikan (pembelajaran) dengan
cara otoriter, berpikir memberikan ilmu sebayak-banyaknya maka itu tidak bisa
dilakukan.
Mitos
itu riwatnya manusia lahir itu sudah memiliki mitos, mitos itu yang mestinya
bisa dipikirkan tapi tidak dipikirkan. Jadi kalau agama bukan mitos, kalau
agama yang mestinya tidak perlu dipikirkan. Misalnya berdoa sampai khusuk, tapi
motos itu yang mestinya bisa dipikirkan dan mestinya tidak perlu dipikirkan.
Misalnya kalau zaman dahulu, Bidadari itu turun dari langit menuju bimi itu
bentuknya adalah pelangi, para Yunani kuno berangkapan kalau pelangi itu
merupakan jembatan para Bidadari dari langit menuju bumi. Setelah ditemukan
fakta-fakta tentang proses pembuatan pelangi melalui beberapa eksperimen dengan
menggunakan hasil bias cermin oleh matahari yang diletakkan di dalam air dan
pantulan biasnya diarahkan ketembok maka terbentuklah pelangi. Tapi kalau berenti
dijembatann saja, maka kita akan termakan oleh mitos.
Setiap
hari kita selalau mengalami motos, mitos dan mitos, kalau ktia kemudian
memikirkan mitos dan kemudian menjadi pengetahuan maka akan menjadi logos.
Mitos dan logos tidak bersifat absolut tetapi bersifat relatif kontekstual
terhadap ruang dan waktu. Stetmen-stetmen Prof. Dr. Marsigit MA, yang
ditanyakan pada mahasiswa seperti ini kalau selsesai kuliah dan samapai akhir
hayat seperti-seperti itu saja maka itu akan menjadi mitos-mitos Pak Prof Marsigit.
Kalau mahasiswa itu kritis, kreatif dan berusaha dan berikhtiar maka mahasiswa
akan menemukan-menemukan logos dari motos-mitos. Mitos orang jawa itu kalau ada gerhana,
bulannya hilang karena dimakan raksasa dan orang-orang bersama-sama keluar
memukul gendang, titir dan palu sebagainya. Kalau berhenti hanya disitu saja
bisa, antara linier dan siklik ada batas-batasnya. Mitos itu adalah karena
ketidakpahaman dari dimensi yang lebih rendah memahami dimensi yang lebih atas.
Selain
itu, hanya karena hp, banyak anak – anak yang memanfaatkan hp sebagai mainan,
sehingga mainan – mainan tradisional atau warisan budaya semakin tergerus.
Contohnya, di kota sekarang ini, apakah ada yang masih bermain dengan mainan
dengan bahan kayu atau bambu? Sudah tidak ada lagi. Adapun lagu – lagunya juga,
saat ini banyak anak – anak yang menyanyikan lagu – lagu orang dewasa, karena
sudah tidak adanya lagu anak – anak. Lagu anak – anak pada zaman dahulu, berisi
tentang nasehat, ilmu, bermain, benar – benar menunjukkan dunia anak. Hp
semakin maju dan semakin canggih, anak semakin cepat mempelajari teknologi ini,
sehingga bisa saja menyalahgunakan fungsi dari hp. Untuk itu, sebaiknya
anak-anak juga harus diawasi ketika menggunakan hp atau jauhkan hp dari
jangkauan anak – anak. "Hidupku dalam fenomena Compte".
Dalam
hidup, kita membutuhkan suatu alat komunikasi untuk berbicara satu sama lain
tanpa harus bertemu. Kemudian karena perkembangan zaman dan teknologi semakin
canggih sehingga memudahkan kita. Maka, dengan adanya hp yang sekarang sudah
banyak di pasaran dengan segala macam merk dan harga dari ratusan ribu sampai
jutaan, mereka banyak menghabiskan waktunya dengan hp daripada dengan orang
lain. Karena gadget seperti hp ini, akibatnya sosialisasi antar masyarakat
rasanya kurang erat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar