Assalamu'alaikum Wr. Wb.
(1). SIAPAKAH ORANG YANG CERDAS ITU ?
Ketika orang menyadari adanya kehidupan selain kehidupan
dunia ini, ia tentu akan menyiapkan sebaik mungkin untuk bekal kehidupan kelak.
Orang yang cerdas bukanlah orang yang memperoleh pangkat doktor atau profesor.
Atau orang yang telah mempu menciptakan suatu teori supersulit atau insinyur
yang mempu menciptakan mega proyek yang tak tertandingi. Tapi, orang sukses
adalah mereka yang mampu menghitung-hitung amalnya untuk persiapan kehidupan
setelah mati.
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: “Kami
bersepuluh datang kepada Nabi SAW, ketika seorang Anshar berdiri dan bertanya:
‘Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?’ Maka
Rasulullah menjawab: ‘Mereka yang paling banyak mengingat mati dan paling
banyak mempersiapkan kematian. Merekalah orang yang paling cerdas. Mereka akan
pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ibnu
Majah).
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW. bersabda, ”Orang yang
cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal
untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang
yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada
Allah”. (HR. Ibnu Majah).
Jadi, orang yang cerdas adalah orang yang tahu bagaimana
mempersiapkan mati. Mengingat mati atau mempersiapkan kematian yang dimaksud
bukan hanya terkait dengan kain kafan, harta warisan, surat wasiat, atau lahan
pekuburan. Manusia cerdas tentu lebih giat mempersiapkan bekal untuk menghadapi
kehidupan setelah mati. Mereka tahu bagaimana merubah yang fana ini menjadi
sesuatu yang kekal. Misalnya, bagaimana caranya harta yang fana ini bisa
berubah menjadi kekal? Maka caranya adalah dengan mengeluarkan sebagian atau
semuanya kalau memungkinkan dari harta itu untuk tabungan akhiratnya. Sebagai
investasi di hari, di mana orang tidak lagi mampu mengiventasikan hartanya.
Orang cerdas selalu memikirkan tentang kematian. Karena
kematian adalah sesuatu hal yang misterius yang hanya Allah saja yang tahu.
Tinggal bagaimana diri kita dalam mempersiapkan diri ini untuk menghadapi
kematian yang akan mendatangi kita.”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah
kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu
mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali-Imran:102)
Ia juga memikirkan saat dirinya dibangkitkan kembali di
yaumul hisab atau hari perhitungan amal perbuatan selama di dunia. Sebagaimana
dikabarkan Rasulullah SAW: “Tidak ada seorangpun di antara kalian kecuali akan
diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Kemudian ia menengok ke kanan, maka
ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Ia pun
menengok ke kiri, maka ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya
(di dunia). Lalu ia melihat ke depan, maka ia tidak melihat kecuali neraka ada
di depan wajahnya. Karena itu jagalah diri kalian dari neraka meski dengan
sebutir kurma.” (HR. Bukhori Muslim)
Orang-orang yang sadar dan tahu hakekat antara dunia dan
akherat, akan merasa ringan ketika meninggalkan dunia dan tidak ada rasa takut
untuk mati. Karena dengan perantaraan kematian manusia akan mendapatkan hakekat
kehidupan, kekekalan, kenikmatan dan bertemu dengan penciptanya. Hal ini bukan
berarti orang mukmin tidak takut mati, tetapi yang dimaksudkan adalah sebagaimana
di ungkapkan para shahabat kepada Rasulullah, " Wahai Rasulullah semua
kita tidak suka dengan kematian! Rasulullah menjawab, " Bukan itu
maksudnya, tetapi ketika orang mukmin diperlihatkan kepadanya tetang sesuatu
yang akan datang untuknya, ia senang untuk bertemu kepada Allah dan Allah pun
senang bertemu dengannya. (HR. Bukhori).
Adapun orang-orang yang telah terperdaya dengan tipuan
dunia, akan selalu takut untuk mati karena tidak ada bekal yang akan mereka
bawa untuk ke akhirat. Ketika kematian mendatangi mereka dan diperlihatkan apa
yang akan mereka peroleh nantinya "Mereka tidak suka untuk bertemu dengan
Allah, maka Allah pun tidak suka bertemu dengnnya " (HR. Bukhori).
Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah, agar dapat
mempersiapkan pertemuan kita dengan-Nya, dengan persiapan terbaik. Amin.
(2). SIAPAKAH ORANG YANG KAYA DAN MISKIN ITU ?
Hakikat kaya menurut pandangan kita tentu sangat berbeda
jika dibandingkan pandangan suri tauladan kita Nabi Muhammad Shallahu'alaihi
wassalam. Bagi kita mungkin orang kaya adalah orang yang memiliki harta yang
banyak nan melimpah, dan begitu juga dengan si miskin, menuruk kita adalah
mereka yang kekurangan harta untuk kehidupannya sehari-hari.
Akan tetapi pada dasarnya, bukanlah harta dan kekuasaan yang
menjadi tolak ukur orang itu disebut kaya ataupun miskin. tetapi sebutan si
Miskin dan Si Kaya sebenarnya adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah
dalam salah satu haditsnya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya
harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam)
jiwa (hati).”(HR. al-Bukhari No. 6081 dan Muslim No. 1051)
Bukanlah kekayaan yang hakiki (dirasakan) dengan banyaknya
harta, karena banyak orang yang Allah jadikan hartanya berlimpah tidak merasa
cukup dengan pemberian Allah tersebut, sehingga dia selalu bekerja keras untuk
menambah hartanya dan dia tidak peduli dari mana pun harta tersebut berasal
(dari cara yang halal atau haram). Maka (dengan ini) dia seperti orang yang
sangat miskin karena (sifatnya) yang sangat rakus. Kekayaan yang hakiki adalah
kekayaan (dalam) jiwa (hati), yaitu orang yang merasa cukup, qana’ah dan ridha
dengan rezeki yang Allah limpahkan kepadanya, sehingga dia tidak (terlalu)
berambisi untuk menambah harta (karena dia telah merasa cukup) dan tidak ngotot
mengejarnya, maka dia seperti orang kaya.” (Kitab Tuhfatul ahwadzi, (7/35)
(3). SIAPAKAH ORANG YANG KUAT ITU ?
Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata: Rasulullah SAW
bersabda,"Orang kuat bukanlah yang kuat dalam bergulat, namun orang yang
mampu menguasai dirinya tatkala Marah.
(HR. Muttafaq 'Alaih)
Hal-Hal Penting dari Hadits:
a). Hadits ini menunjukkan bahwa kekuatan hakiki itu
bukanlah terletak pada kekuatan otot dan kekuatan badan. Namun kekuatan hakiki
itu berupa kekuatan maknawi.
Jadi bukanlah seorang yang kuat itu adalah orang yang selalu
menang dalam setiap pertarungan. Tetapi seorang yang mampu untuk menahan dan
mengalahkan hawa nafsunya tatkala kemarahannya telah memuncak hingga ia tidak
terjerumus kepada hal-hal yang diharamkan, baik berupa perbuatan zhalim,
perkataan2 yang diharamkan, seperti mencela, melaknat atau menuduh seorang berbuat
zina dan lain-lain.
b). Marah itu adalah sebuah tekanan yang berada di dalam
diri seorang manusia. Maka jika tekanan tsb mendapat rangsangan, ia akan keluar
dengan wujud keinginan untuk menyakiti dan menguasai.
Maka seorang yang kuat yaitu orang yang senantiasa dapat
berjuang mengatasi rangsangan tsb hingga pupuslah keinginannya untuk menyakiti
dan menguasai saudaranya.
c). Adapun pengertian dari hadits Rasulullah SAW yang
diriwayatkan oleh Bukhari (6116) dari hadits Abu Hurairah,
"Bahwa seorang laki-laki pernah berkata kepada Nabi
SAW, 'wahai Rasulullah SAW berilah wasiat kepadaku!', maka beliau
bersabda,"Janganlah engkau marah,"
Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah, agar dapat
mempersiapkan pertemuan kita dengan-Nya, dengan persiapan terbaik. Amin.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah...terimakasih banyak
BalasHapus