Pengertian Jihad Kata Jihad berasal dari kata Al Jahd
(ُالجَهْد) dengan difathahkan huruf jimnya yang bermakna kelelahan dan
kesusahan atau dari Al Juhd (الجُهْدُ) dengan didhommahkan huruf jimnya yang
bermakna kemampuan. Kalimat (بَلَغَ جُهْدَهُ) bermakna mengeluarkan kemampuannya.
Sehingga orang yang berjihad dijalan Allah adalah orang yang mencapai kelelahan
untuk dzat Allah dan meninggikan kalimatNya yang menjadikannya sebagai cara dan
jalan menuju surga. Dibalik jihad memerangi jiwa dan jihad dengan pedang, ada
jihad hati yaitu jihad melawan syetan dan mencegah jiwa dari hawa nafsu dan
syahwat yang diharamkan. Juga ada jihad dengan tangan dan lisan berupa amar
ma’ruf nahi mungkar. Sedangkan Ibnu Rusyd (wafat tahun 595 H) menyatakan:
“Jihad dengan pedang adalah memerangi kaum musyrikin atas agama, sehingga semua
orang yang menyusahkan dirinya untuk dzat Allah maka ia telah berjihad dijalan
Allah, namun kata jihad fi sabilillah bila disebut begitu saja maka tidak
terfahami kecuali untuk makna memerangi orang kafir dengan pedang sampai masuk
islam atau memberikan upeti dalam keadaan rendah dan hina”. Ibnu Taimiyah
(wafat tahun 728H) mendefinisikan jihad dengan pernyataan: “Jihad artinya
mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan yang dicintai Allah
dan menolak yang dibenci Allah” . Dan beliau juga menyatakan: “Jihad hakikatnya
adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan
amal sholeh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan
dan kemaksiatan”. Tampaknya tiga pendapat diatas sepakat dalam mendefinisikan
jihad menurut syariat islam, hanya saja penggunaan lafadz jihad fi sabilillah
dalam pernyataan para ulama biasanya digunakan untuk makna memerangi orang
kafir. Oleh karena itu Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al ‘Abaad menyatakan
bahwa definisi terbaik dari jihad adalah definisi Ibnu Taimiyah diatas dan
beliau menyatakan: Terfahami dari pernyataan Ibnu Taimiyah diatas bahwa jihad
dalam pengertian syar’i adalah nama yang meliputi penggunaan semua sebab dan cara
untuk mewujudkan perbuatan, perkataan dan keyakinan (i’tiqad) yang Allah cintai
dan ridhoi dan menolak perbuatan, perkataan dan keyakinan yang Allah benci dan
murkai. Baiklah, di sini kami hendak mengulas mengenai amal-amal yang pahalanya
setara dengan jihad. Niatan kami, selain ingin membersihkan reputasi ibadah
jihad, kami juga ingin membantu saudara-saudara kami yang telah mengetahui
hakekat dan kedudukan jihad dalam syari’ah Islam, yang ingin meraih pahala
jihad sementara jihad belum tegak. Rasulullah dalam beberapa kesempatan
menguraikan amal-amal yang pahalanya setara dengan berjihad, berikut di
antaranya.
1). Membantu
para janda dan orang-orang miskin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
“Orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin seperti orang yang
berjihad di jalan Allah atau orang yang mengerjakan shalat malam dan berpuasa
siang hari.” [Shahih: Shahih Al-Bukhari no. 6006; Shahih Muslim no. 2982]
2). Berbuat
baik kepada kedua orang tua.
Dari Abu Hurairah, ada seseorang yang dating kepada
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta izin berjihad. Nabi pun
bertanya, “Apakah orang tua Anda masih hidup?” Orang itu menjawab, “Ya.” Nabi
berkata, “Hendaknya kepada keduanya Anda berjihad.” [Shahih: Shahih Al-Bukhari
no. 3004; Shahih Muslim no. 2549] Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah
kewajiban setiap anak. Sebaliknya, mendurhakai kedua orang tua adalah kejahatan
paling jahat. Bagaimana berbuat baik kepada orang tua? Dengan menaatinya,
menghormatinya, membantunya, memenuhi permintaannya, berdoa untuknya, dan
sebagainya. Tentu saja selagi masih dalam koridor ketaatan kepada Allah. Ketika
telah melanggar ketentuan Allah yaitu Islam, maka kita diperbolehkan tidak
menaati orang tua. Namun tetap kita berbuat baik kepada keduanya. Bagaimana
bentuk durhaka kepada orang tua? Dengan tidak menaatinya, dengan merendahkannya
dan tidak memuliakannya, dengan tidak membantunya, dengan tidak memenuhi
permintaan dan kebutuhannya, tidak berdoa kebaikan untuknya malahan mendoakan
kejelekan untuknya, dan sebagainya.
3). Menjadi
amil zakat, baik zakat fithri maupun zakat mal.
Dari Rafi’ bin Khadij, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam berkata, “Orang yang bekerja sebagai amil zakat dengan benar seperti
orang yang berperang di jalan Allah hingga ia kembali ke rumahnya.” [Shahih:
Sunan Abu Dawud no. 2936. Shahih Al-Jami’ no. 4117]
4). Bekerja
mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri, keluarga, dan kedua
orang tua.
Dari Ka’b bin ‘Ujrah, ada seseorang berpapasan dengan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para shahabat kagum terhadap kesungguhannya
dalam bekerja. Lalu mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, seandainya ia berada di
jalan Allah.” Rasulullah mengomentari, “Kalau ia keluar mencari rizki untuk
(memenuhi kebutuhan) anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah.
Jika ia keluar mencari rizki untuk (memenuhi kebutuhan) kedua orang tuanya yang
sudah lanjut usia, maka ia terhitung di jalan Allah. Bila ia keluar mencari
rizki untuk (memenuhi kebutuhan) dirinya untuk menjaga diri (dari
meminta-minta), maka ia berada di jalan Allah. Namun, jika ia keluar mencari
rizki untuk pamer dan kesombongan, maka ia berada di jalan setan.” [Shahih:
Shahih Al-Jami’ no. 1428]
5). Mempelajari
kebaikan (ilmu) atau mengajarkannya di Masjid
Dari Abu Hurairah, Rasulullah berkata, “Barangsiapa
mendatangi masjidku ini dan tidak ada tujuan lain kecuali mempelajari atau
mengajarkan kebaikan, niscaya ia seperti orang yang berjihad di jalan Allah.
Dan barangsiapa dalam mendatanginya dengan tujuan yang lain, maka ia seperti
orang yang melihat kenikmatan orang lain.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 6184]
6). Melaksanakan
ibadah haji dan umrah.
Dari Ummu Ma’qal, Rasulullah berkata, “Sesungguhnya
haji dan umrah termasuk di jalan Allah, dan umrah pada bulan Ramadhan sebanding
dengan haji.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 1599] Dari Asy-Syafa`, ada seorang
yang datang kepada Nabi dan berkata, “Saya ingin berjihad di jalan Allah.” Nabi
lantas berkata, “Maukah kamu aku tunjukkan jihad yang tidak ada rintangannya?
(yaitu) Haji ke Baitullah.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 2611] Dari Al-Husain
bin ‘Ali, Rasulullah berkata, “Mari menuju jihad yang tidak ada rintangannya,
yaitu haji.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 7044]
7). Menanti
datangnya shalat setelah melaksanakan shalat.
Dari Anas bin Malik, Rasulullah bertanya,”Maukah
kalian aku tunjukkan suatu amalan yang menyebabkan Allah menghapus
kesalahan-kesalahan dan meninggikan derajat-derajat kalian? Yaitu,
menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu sulit, banyak melangkah menuju masjid,
dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath, itulah ribath.” [Shahih:
Shahih Muslim no. 251] Para shahabat Rasulullah banyak yang lebih memilih
lokasi rumah yang jauh dari Masjid, karena mengetahui keutamaan tersebut. Dari
Jabir bin ‘Abdillah, ia menceritakan, “Rumah kami jauh dari masjid. Kemudian,
kami ingin menjual rumah kami agar bisa berpindah di dekat masjid. Namun
Rasulullah melarang kami. Beliau berkata, “Sesungguhnya pada setiap langkah
kalian (bisa mengangkat) derajat.”.” [Shahih: Shahih Muslim no. 664] Dari Anas
bin Malik, “Saya berjalan ke masjid bersama Zaid bin Tsabit. Ketika itu ia
memperpendek langkahnya sambil berkata, “Saya ingin langkah kita ke masjid
menjadi banyak.”.” [Fat-h Al-Bari 2/165 hadits no. 656] Dari Ubay bin Ka’b, ada
orang yang setahu saya rumahnya paling jauh dari masjid. Tetapi ia tidak pernah
tertinggal shalat jama’ah. Orang itu ditanya atau saya bertanya kepadanya,
“Mengapa Anda tidak membeli keledai yang bisa Anda naiki ketika malam yang
gelap dan ketika panas?” Ia menjawab, “Aku tidak suka jika rumahku dekat
masjid. Aku ingin langkahku ketika berangkat ke masjid dan ketika pulang
menemui keluargaku ditulis (diberi pahala).” Rasulullah berkomentar, “Allah
telah mengumpulkan itu semua untukmu.” [Shahih: Shahih Muslim no. 663]
8). Berpegang
teguh terhadap As-Sunnah ketika zaman fitnah dan Islam dianggap asing oleh
kebanyakan manusia.
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah berkata,
“Sesungguhnya sesudah kalian ada suatu zaman, pada saat itu orang yang bersabar
dalam berpegang teguh terhadap As-Sunnah mendapatkan pahala lima puluh orang
mati syahid.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 1625]
9). Menyiapkan
bekal bagi orang yang berjihad di jalan Allah atau mengurusi keluarga orang
yang berjihad di jalan Allah.
Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, Rasulullah berkata,
“Barangsiapa menyiapkan bekal bagi orang yang berperang di jalan Allah maka ia
tercatat telah berperang, dan barangsiapa mengurus keluarga orang yang
berperang (di jalan Allah) maka ia tercatat telah berperang.” [Shahih: Shahih
Al-Bukhari no. 2843; Shahih Muslim no. 1895]
Kesepuluh, mendakwahi orang musyrik dan memberantas
kesyirikan. Jika orang musyrik yang kita dakwahi itu menyerang kaum muslimin,
maka kita wajib berjihad memeranginya. Dari Abdullah bin Hubsyi Al-Khats’ami,
bahwasanya Nabi pernah ditanya, “Apakah Jihad yang paling utama?” Beliau
menjawab, “Orang yang berjihad melawan kaum musyrikin dengan harta dan
jiwanya.” [Shahih: Shahih Sunan Abu Dawud no. 1449]
11). Berdakwah
kepada penguasa dan pemerintah yang lalim.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah berkata,
“Sebaik-baik jihad adalah mengungkapkan kebenaran kepada penguasa (sulthan)
yang lalim, ataupun pemerintah (amir) yang lalim.” [Shahih: Shahih Sunan Abu
Dawud no. 4344]
12). Berdoa
dengan sungguh-sungguh meminta mati syahid.
Dari Sahl bin Hunaif, Rasulullah berkata, “Barangsiapa
benar-benar meminta mati syahid niscaya Allah mengantarkannya kepada derajat
orang-orang yang mati syahid sekalipun ia mati di atas ranjangnya.” [Shahih:
Shahih Muslim no. 1909] Ibnu Hajar berkata, “Derajat orang yang berjihad
terkadang bisa diraih oleh orang yang tidak berjihad. Bisa jadi karena niatnya
yang tulus atau bisa juga karena amal shalih yang menyamainya. Setelah
menjelaskan bahwa surga firdaus itu dipersiapkan untuk orang-orang yang
berjihad, Allah memerintah kita untuk berdoa meminta surga Firdaus.” [Fat-h
Al-Bari 6/16 hadits no. 279]
Demikianlah dua belas amal setara jihad. Semoga Allah
senantiasa memberikan taufiq dan hidayahNya. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar