MENGENAL BILANGAN DALAM FILSAFAT MATEMATIKA
Definisi
Bilangan
Bilangan adalah
suatu konsep matematika yang bersifat abstrak yang digunakan untuk pencacahan
dan pengukuran. Simbol ataupun lambang yang digunakan untuk mewakili suatu bilangan disebut sebagai
angka atau lambang bilangan. Bilangan adalah suatu konsep matematika yang
digunakan untuk pencacahan dan pengukuran. Simbol ataupun lambang yang
digunakan untuk mewakili suatu bilangan disebut sebagai angka atau lambang
bilangan. Dalam matematika, konsep bilangan selama bertahun-tahun lamanya telah
diperluas untuk meliputi bilangan nol, bilangan negatif, bilangan rasional,
bilangan irasional, dan bilangan kompleks.
Bilangan pada awalnya hanya
dipergunakan untuk mengingat jumlah, namun dalam perkembangannya setelah para
pakar matematika menambahkan perbendaharaan simbol dan kata-kata yang tepat
untuk mendefenisikan bilangan maka matematika menjadi hal yang sangat penting
bagi kehidupan dan tak bisa kita pungkiri bahwa dalam kehidupan keseharian kita
akan selalu bertemu dengan yang namanya bilangan, karena bilangan selalu
dibutuhkan baik dalam teknologi, sains, ekonomi ataupun dalam dunia musik,
filosofi dan hiburan serta banyak aspek kehidupan lainnya. Bilangan dahulunya
digunakan sebagai simbol untuk menggantikan suatu benda misalnya kerikil,
ranting yang masing-masing suku atau bangsa memiliki cara tersendiri untuk
menggambarkan bilangan dalam bentuk simbol.
Membaca uraian di atas, jelas bahwa bilangan
memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan umat manusia. Dapatkah
terbayangkan bagaimana bila kehidupan di dunia ini tidak mengenal konsep
bilangan? Bagaimana cara manusia melakukan berbagai aktivitas kehidupan
sehari-hari mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks sekalipun?
Bagaimana manusia dapat menghitung berapa lama ia telah hidup? Bagaimana
caranya melakukan kegiatan jual beli? Tentu sangat sulit bukan? Oleh karena
itu, alangkah bagusnya jika kita mengenal konsep dasar mengenai bilangan.
Mengenal
Bilangan pada Suku Bangsa Babilonia
Matematika
Babilonia merujuk pada seluruh matematika yang dikembangkan oleh bangsa
Mesopotamia (kini Iraq) sejak permulaan Sumeria hingga permulaan peradaban
helenistik. Dinamai "Matematika Babilonia" karena peran utama kawasan
Babilonia sebagai tempat untuk belajar. Pada zaman peradaban helenistik,
Matematika Babilonia berpadu dengan Matematika Yunani dan Mesir untuk
membangkitkan Matematika Yunani. Kemudian di bawah Kekhalifahan Islam,
Mesopotamia, terkhusus Baghdad, sekali lagi menjadi pusat penting pengkajian
Matematika Islam.
Simbol
Bilangan dalam suku Babylonia (±2000 SM)
Mengenal
Bilangan pada Suku Bangsa Mesir Kuno
Matematika Mesir
merujuk pada matematika yang ditulis di dalam bahasa Mesir. Sejak peradaban
helenistik matematika Mesir melebur dengan matematika Yunani dan Babilonia yang
membangkitkan Matematika helenistik. Pengkajian matematika di Mesir berlanjut
di bawah Khilafah Islam sebagai bagian dari matematika Islam, ketika bahasa
Arab menjadi bahasa tertulis bagi kaum terpelajar Mesir.
Simbol Bilangan Mesir Kuno (±3000 SM)
|
|
|
|
|
|
|

Pada abad ke 3
S.M., perkembangan teori bilangan ditandai oleh hasil kerja Erathosthenes, yang
sekarang terkenal dengan nama Saringan Erastosthenes (The Sieve of
Erastosthenes). Dalam enam abad berikutnya, Diopanthus menerbitkan buku yang
bernama Arithmetika, yang membahas penyelesaian persamaan didalam bilangan
bulat dan bilangan rasional, dalam bentuk lambang (bukan bentuk/bangun
geometris seperti yang dikembangkan oleh Euclid). Dengan kerja bentuk lambang
ini, Diopanthus disebut sebagai salah satu pendiri aljabar.
Berikut ini adalah Simbol-simbol
bilangan yang ditemukan :

Bilangan Cunieform yang
digunakan bangsa
Babilonia sejak tahun
5000 SM

Lambang bilangan bangsa
Hindu-Arab kuno
pada abad ke-10

Lambang bilangan yang
digunakan bangsa Maya
di Amerika pada tahun
500 SM

Lambang bilangan
Hieroglif yang digunakan
bangsa
Mesir Kuno

Lambang bilangan bangsa
Arab pada abad ke-11

Lambang bilangan bangsa
Yunani Kuno

Lambang
bilangan bangsa Romawi
Himpunan
Bilangan
Pada zaman
sekarang ini, sistem penulisan bilangan yang dikenal adalah penulisan yang
dikembangkan oleh bangsa Arab (Angka Arab) dengan angka pokoknya 0, 1, 2, 3, 4,
5, 6, 7, 8, 9, sedangkan angka yang lebih dari 9, ditulis dengan mengkombinasikan
angka-angka pokok tadi. Untuk keperluan menghitung, maka orang-orang mulai
memerlukan “bilangan penghitung” (counting number) yaitu bilangan yang dimulai
dari 1, 2, 3, 4, 5, ... dan seterusnya. Dimana bilangan penghitung tersebut
sekarang ini dikenal dengan nama bilangan-bilangan asli, dan apabila
bilangan-bilangan asli dihimpun menjadi sebuah himpunan, dan sebutlah himpunan
itu dengan N, maka di dalam matematika, himpunan semua bilangan asli N tersebut
dikenal sebagai N = {1, 2, 3, 4, 5, ... }.
Untuk keperluan
lainnya kemudian orang memperluas bilangan asli menjadi bilangan bulat,
sehingga munculah himpunan semua bilangan bulat. Di dalam bahasa asing
disingkat “I” (integer), himpunan bilangan bulat I dinyatakan dengan I = {... ,
-3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, ...}. dari bilangan bulat diperluas menjadi bilangan
rasional. Bilangan rasional biasanya diberi nama dengan “Q” singkatan dari
Quotient yang berarti rasio atau perbandigan. Himpunan bilangan rasional Q
dinyatakan dengan Q = {
}.
Karena
,
hubungan ketiga himpunan bilangan tersebut dapat digambarkan melalui diagram
venn berikut:

Kemudian untuk
keperluan tertentu orang-orang menciptakan bilangan Irasional, apabila himpunan
semua bilangan irasional diberi nama H, maka himpunan semua bilangan irasional
H dan himpunan semua bilangan rasional Q merupakan dua buah himpunan yang
saling lepas, sehingga H
Q =
(himpunan kosong) sedangkan gabungan dari
himpunan rasional dan irasional disebut himpunan semua bilangan real R atau H
Q = R.
Hubungan antara
kelima himpunan N, I, Q, H, dan R dapat diperlihatkan oleh diagram Venn
berikut:

Bilangan yang
bukan merupakan bilangan real disebut “bilangan imajiner” dan biasanya diberi
nama dengan huruf i atau i =
. Dengan dikenalnya bilangan imajiner maka
kita akan mengenal bilangan kompleks dan diberi nama C, yang dinyatakan sebagai

Hubungan antara
ketujuh himpuan N, I, Q, H, R, M, dan C ditunjukan oleh diagram venn, tampak
bahwa N
I
Q
R
C, H
R
C, M
C, Q
H =
dan M
R =
.

Macam-Macam Bilangan
Bilangan
Asli ( N )
Bilangan asli adalah bilangan bulat positif yang
bukan nol, yaitu unsur himpunan N={1, 2, 3, 4, ...}. Bilangan asli merupakan
salah satu konsep matematika yang paling sederhana dan termasuk konsep pertama
yang bisa dipelajari dan dimengerti oleh manusia, bahkan beberapa penelitian
menunjukan beberapa jenis kera besar (inggris:apes) juga bisa mempelajarinya.
Bilangan asli adalah jenis pertama dari bilangan yang digunakan untuk
membilang, menghitung, membagi dsb. Bilangan asli dapat digunakan untuk
mengurutkan dan mendefinisikan sifat terhitung suatu himpunan.
Bilangan
Cacah (C)
Bilangan cacah adalah bilangan bulat yang tidak
negatif, yaitu C= {0, 1, 2, 3, 4, ...}. Dengan kata lain himpunan bilangan
cacah adalah himpunan bilangan asli ditambah 0.
Bilangan
Bulat ( I )
Bilangan
bulat terdiri dari bilangan cacah (0, 1, 2, ...) dan negatifnya (-1, -2, -3,
...); -0 adalah sama dengan 0 dan tidak dimasukkan lagi secara terpisah). Pada
bilangan bulat bisa dilakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan
pembagian yang masing-masing operasi mempunyai sifat-sifat tertentu. Sistem
bilangan bulat tercipta sebagai perluasan sistem bilangan cacah untuk
mendapatkan sistem bilangan yang tertutup terhadap semua operasi hitung.
Perluasan tersebut dilakukan dengan mencari bilangan yang tertutup terhadap
operasi pengurangan.
-
Semua
bilangan di sebelah kiri nol adalah bilangan negatif
-
Semua
bilangan di sebelah kiri nol adalah bilangan positif
Bilangan
Rasional ( H )
Bilangan
rasional adalah bilangan yang dinyatakan sebagai
dimana a dan b bilangan bulat dan b tidak sama
dengan 0. Bilangan rasional merupakan bilangan
yang mempunyai jumlah kurang atau lebih dari utuh, terdiri dari pembilang dan
penyebut. Pembilang merupakan bilangan
yang terbagi, sedangkan penyebut merupakan bilangan pembagi.
|
Contoh :
|
4
à pembilang
5
à penyebut
|
2 Ã pembilang
3
à penyebut
Bilangan
Irasional ( Q )
Bilangan irasional
adalah bilangan riil yang tidak bisa dibagi atau hasil baginya tidak pernah
berhenti. Bilangan irasional tidak dapat dinyatakan dengan a/b. dengan a dan b
sebagai bilangan bulat dan b tidak sama dengan 0 (nol). Contoh yang paling
popular dari bilangan irasional adalah bilangan
,
dan bilangan e.
Bilangan
sebetulnya tidak tepat = 3,14 tetapi =
3,1415926535... atau = 3,14159 26535 89793 23846 26433 83279 50288 41971 69399
... Untuk bilangan
yaitu bernilai = 1,41421356237309504880168872
... atau = 1,41421 35623 73095 04880 16887 24209 69807 85696 71875 37694 80731
76679 73798 ... (hingga 700 digit belum selesai, yang ditemukan oleh pakar
matematika Jepang dengan batuan komputer ), untuk bilangan e yaitu bernilai =
2,7182818 ...
Bilangan
Riil ( R )
Bilangan
riil atau real number menyatakan angka yang bisa dituliskan dalam bentuk
desimal, seperti 2,4871773339 ... atau 3,25678. Bilangan real meliputi bilangan
rasional, seperti 42 dan
,
dan bilangan irasional seperti
dan bilangan akar, juga dapat
direpresentasikan sebagai salah satu titik dalam garis bilangan. Definisi
popular dari bilangan riil meliputi kelas ekivalen dari deret Cauchy rasional,
irisan Dedekind, dan deret Arhimides.
Bilangan
Imajiner
Bilangan imajiner
adalah bilangan yang mempunyai sifat
.
Bilangan ini biasanya merupakan bagian dari bilangan kompleks. Selain bagian
imajiner, bilangan komplek mempunyai bagian riil. Secara definisi, bagian
bilangan imajiner ini diperoleh dari penyelesaian persamaan kuadratik
atau 
Bilangan
Kompleks
Bilangan kompleks
adalah bilangan yang berbentuk
.
Dimana a dan b adalah bilangan riil dan I adalah bilangan imajiner tertentu
yang mempunyai sifat
.
Bilangan riil a disebut juga bagian riil dari bilangan kompleks dan bilangan
real b disebut bagian imajiner. Jika pada suatu bilangan kompleks, nilai b
adalah 0, maka kompleks tersebut menjadi sama dengan bilangan real a.
Bilangan
kompleks dapat ditambah, dikurang, dikali dan dibagi seperti bilangan riil,
namun bilangan kompleks juga mempunyai sifat-sifat tambahan yang menarik.
Misalnya, setiap persamaan aljabar polinomial mempunyai solusi bilangan
kompleks, tidak seperti bilangan riil yang hanya memiliki sebagian.
Selain
bilangan-bilangan di atas, juga terdapat beberapa bilangan lainnya, yaitu :
Bilangan
Nol
Konsep bilangan nol
telah berkembang sejak zaman Babilonia danYunani kuno, yang pada saat itu
diartikan sebagai ketiadaan dari sesuatu. Konsep bilangan nol dan
sifat-sifatnya terus berkembang dari waktu ke waktu.
Sejarah diketemukannya
bilangan nol adalah sekitar 300 SM, orang Babilonia telah memulai penggunaan
dua baji miring (//) untuk menunjukkan sebuah tempat kosong pada abax (alat
hitung pertama bangsa Babilonia, lebih dikenal dengan abacus).
Hingga pada abad ke-7,
Brahmagupta seorang matematikawan India memperkenalkan beberapa sifat bilangan
nol. Sifat-sifatnya adalah suatu bilangan bila dijumlahkan dengan nol adalah
tetap, demikian pula sebuah bilangan bila dikalikan dengan nol akan menjadi
nol. Tetapi, Brahmagupta menemui kesulitan dan cenderung ke arah yang salah,
ketika berhadapan dengan pembagian oleh bilangan nol. Hal ini terus menjadi
topik penelitian pada saat itu, bahkan sampai 200 tahun kemudian. Misalnya
tahun 830, Mahavira (India) mempertegas hasil-hasil Brahmagupta, dan bahkan
menyatakan bahwa “sebuah bilangan dibagi oleh nol adalah tetap”. Tentu saja ini
suatu kesalahan fatal. Tetapi, hal ini tetap harus sangat dihargai untuk ukuran
saat itu.
Ide-ide brilian dari
matematikawan India selanjutnya dipelajari oleh matematikawan Muslim dan Arab.
Hal ini terjadi pada tahap-tahap awal ketika matematikawan Al-Khawarizmi meneliti
sistem perhitungan Hindu (India) yang menggambarkan sistem nilai tempat dari
bilangan yang melibatkan bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9.
Al-Khawarizmi adalah yang pertama kali memperkenalkan penggunaan bilangan nol
sebagai nilai tempat dalam basis sepuluh. Sistem ini disebut sebagai sistem
bilangan desimal.
Bilangan
Sempurna
Bilangan sempurna
adalah bilangan bulat yang juga merupakan jumlah dari pembagi positifnya, tidak
termasuk bilangan itu sendiri. Oleh karena itu, 6 adalah bilangan sempurna, karena
1, 2, dan 3 adalah pembagi dari 6, dan 1 + 2 + 3 = 6. Bilangan sempurna
berikutnya adalah 28 = 1 + 2 + 4 + 7 + 14. Diikuti dengan 496, dan 8128. Hanya
empat bilangan sempurna yang pertama inilah yang diketahui oleh ahli zaman
Yunani Kuno.
Saat ini, telah
ditemukan rumus dari bilangan sempurna, sehingga kita dapat mencari bilangan
sempurna lainnya selain 6, 28, 496, dan 8128. Rumus tersebut adalah :
Bilangan sempurna =
Bilangan
Bersekawan
Dua buah bilangan a dan
b dikatakan bersekawan apabila jumlah faktor prima dari bilangan a sama dengan
bilangan b dan jumlah faktor prima dari bilangan b sama dengan bilangan a.
Contohnya adalah bilangan 220 dengan 284; faktor prima dari 220 adalah 1, 2, 4,
5, 10, 11, 20, 22, 44, 55 dan 110, dimana jumlahnya sama dengan 284, dan faktor
prima dari 284 adalah 1, 2, 4, 71 dan 142, dimana jumlahnya sama dengan 220.
Beberapa pasangan bilangan bersekawan lainnya adalah (220, 284), (1184, 1210),
(2620, 2924), (5020, 5564), dan (6232, 6368).
Bilangan-bilangan
tersebut dapat digambarkan dalam sebuah bagan bilangan berikut :
![]() |
DAFTAR PUSTAKA
Aditya., (2010), Sejarah Sistem
Bilangan. [Online]. Tersedia: http://www.
adit38.wordpress.com/2010/05/19/asal-usul-sistem-bilangan
Gauss, Carl Friedrich., (2010),
[Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/
Gauss
Legendre, Adrien-Marie., (2010),
[Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Adrien-Marie_Legendre
Peirce, Benyamin., (2010), [Online].
Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Benjamin_Peirce
Pengertian Sistem Bilangan., (2010),
[Online]. Tersedia: http://www.scribd.com/doc/
25769841/pengertian-sistem-bilangan
Sejarah Matematika., (2010), [Online].
Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/
Sejarah_matematika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar