TUGAS MATEMATIKA MODEL
Mata Kuliah : Matematika Model
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, MA.
![]() |
Oleh:
Nama :
Rofi Amaludin, S.Pd.
NIM :
15709251001
Kelas :
P.Mat B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016
SEJARAH PERKEMBANGAN BILANGAN
DALAM FILSAFAT MATEMATIKA
Bilangan adalah suatu konsep matematika yang
digunakan untuk pencacahan dan pengukuran. Simbol ataupun lambang yang
digunakan untuk mewakili suatu bilangan disebut sebagai angka atau lambang bilangan.
Dalam matematika, konsep bilangan selama bertahun-tahun lamanya telah diperluas
untuk meliputi bilangan nol, bilangan negatif, bilangan rasional, bilangan
irasional, dan bilangan kompleks. Banyak yang tidak menduga bahwa nol
sebenarnya sangat berbahaya dan dapat menjadi bom penghancur yang sangat
dahsyat. Sebagai buktinya adalah kisah nyata yang terjadi pada tanggal 21
September 1997.
Kapal perang USS
Yorktown ketika sedang menyusuri lepas pantai Virginia, kapal peluncur misil
berharga jutaan dolar amerika itu tiba-tiba macet dan menimbulkan kecemasan
bagi semua awak kapal. Ketika sistem komputasi Yorktown baru saja
mengoperasikan sebuah software baru pengatur kerja mesin, angka nol yang
seharusnya dihilangkan, terlewatkan dan tersembunyi hingga akhirnya software
tersebut mengaktifkan dan menguncinya. Mesin yang berkekuatan 80.000 tenaga
kuda tersebut tak dapat berfungsi. Kapal tidak bergerak hampir tiga jam. Akibat
kejadian ini, para teknisi membutuhkan waktu dua hari untuk menghapus angka nol
dan Yorktown dapat beroperasi kembali.
Prosedur-prosedur
tertentu yang mengambil bilangan sebagai masukan dan menghasilkan bilangan
lainnya sebagai keluran, disebut sebagai operasi
numeris. Operasi numeris
mengambil satu masukan bilangan dan menghasilkan satu keluaran bilangan.
Operasi yang lebih umumnya ditemukan adalah operasi biner,
yang mengambil dua bilangan sebagai masukan dan menghasilkan satu bilangan
sebagai keluaran. Contoh operasi biner adalah penjumlahan,
pengurangan, perkalian,
pembagian, perpangkatan,
dan perakaran.
Bidang matematika yang mengkaji operasi numeris disebut sebagai aritmetika.
Bilangan pada awalnya hanya
dipergunakan untuk mengingat jumlah, namun dalam perkembangannya setelah para
pakar matematika menambahkan perbendaharaan simbol dan kata-kata yang tepat
untuk mendefenisikan bilangan maka matematika menjadi hal yang sangat penting
bagi kehidupan dan tak bisa kita pungkiri bahwa dalam kehidupan keseharian kita
akan selalu bertemu dengan yang namanya bilangan, karena bilangan selalu
dibutuhkan baik dalam teknologi, sains, ekonomi ataupun dalam dunia musik,
filosofi dan hiburan serta banyak aspek kehidupan lainnya. Bilangan dahulunya
digunakan sebagai simbol untuk menggantikan suatu benda misalnya kerikil,
ranting yang masing-masing suku atau bangsa memiliki cara tersendiri untuk
menggambarkan bilangan dalam bentuk simbol.
Membaca uraian di atas, jelas bahwa bilangan
memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan umat manusia. Dapatkah
terbayangkan bagaimana bila kehidupan di dunia ini tidak mengenal konsep
bilangan? Bagaimana cara manusia melakukan berbagai aktivitas kehidupan
sehari-hari mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks
sekalipun? Bagaimana manusia dapat menghitung berapa lama ia telah hidup?
Bagaimana caranya melakukan kegiatan jual beli? Tentu sangat sulit bukan? Oleh
karena itu, alangkah bagusnya jika kita mengenal konsep dasar mengenai
bilangan, seperti apa itu bilangan? Bagaimana sejarah bilangan berkembang
hingga menjadi seperti bilangan yang kita gunakan saat ini? Siapa-siapa saja
yang telah berjasa dalam menemukan dan mengembangkan konsep bilangan?
2.1
Sejarah Perkembangan Teori Bilangan
Pada mulanya di
zaman purbakala banyak bangsa-bangsa yang bermukim sepanjang sungai-sungai
besar. Bangsa Mesir sepanjang sungai Nil di Afrika, bangsa Babilonia sepanjang
sungai Tigris dan Eufrat, bangsa Hindu sepanjang sungai Indus dan Gangga,
bangsa Cina sepanjang sungai Huang Ho dan Yang Tze. Bangsa-bangsa itu
memerlukan keterampilan untuk mengendalikan banjir, mengeringkan rawa-rawa,
membuat irigasi untuk mengolah tanah sepanjang sungai menjadi daerah pertanian
untuk itu diperlukan pengetahuan praktis, yaitu pengetahuan teknik dan
matematika bersama-sama. Sejarah menunjukkan bahwa permulaan Matematika berasal
dari bangsa yang bermukim sepanjang aliran sungai tersebut. Mereka memerlukan
perhitungan, penanggalan yang bisa dipakai sesuai dengan perubahan musim.
Diperlukan alat-alat pengukur untuk mengukur persil-persil tanah yang dimiliki.
Peningkatan peradaban memerlukan cara menilai kegiatan perdagangan, keuangan
dan pemungutan pajak. Untuk keperluan praktis itu diperlukan bilangan-bilangan.
Bilangan
dahulunya digunakan sebagai simbol untuk menggantikan suatu benda misalnya
kerikil, ranting yang masing-masing suku atau bangsa memiliki cara tersendiri
untuk menggambarkan bilangan dalam bentuk simbol diantaranya :
·
Simbol bilangan bangsa
Babilonia.
·
Simbol bilangan bangsa
Maya di Amerika pada 500 tahun SM.
·
Simbol bilangan
menggunakan huruf Hieroglif yang dibuat bangsa Mesir Kuno.
·
Simbol bilangan bangsa
Arab yang dibuat pada abad ke-11 dan dipakai hingga kini oleh umat Islam di
seluruh dunia.
·
Simbol bilangan bangsa
Yunani Kuno.
·
Simbol bilangan bangsa
Romawi yang juga masih dipakai hingga kini.
Sejarah
perkembangan teori bilangan dapat dikelompokkan menjadi dua masa, yaitu :
2.1.1
Teori Bilangan pada Masa Prasejarah (Sebelum Masehi)
Konsep bilangan
dan proses berhitung berkembang dari zaman sebelum ada sejarah (artinya tidak
tercatat sejarah kapan dimulainya). Mungkin bisa diperdebatkan, tapi diyakini
sejak zaman paling primitif pun manusia memiliki “rasa” terhadap apa yang
dinamakan bilangan, setidaknya untuk mengenali mana yang “lebih banyak” atau
mana yang “lebih sedikit” terhadap berbagai benda.
Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya benda
matematika tertua, yaitu tulang Lebombo di pegunungan Lebombo di Swaziland dan
mungkin berasal dari tahun 35.000 SM. Tulang ini berisi 29 torehan yang berbeda
yang sengaja digoreskan pada tulang fibula baboon. Terdapat bukti bahwa kaum
perempuan biasa menghitung untuk mengingat siklus haid mereka; 28 sampai 30
goresan pada tulang atau batu, diikuti dengan tanda yang berbeda. Selain itu,
ditemukan juga artefak prasejarah di Afrika dan Perancis, dari tahun 35.000 SM
dan berumur 20.000 tahun, yang menunjukkan upaya dini untuk menghitung waktu.
Tulang Ishango, ditemukan di dekat batang air Sungai Nil (timur laut Kongo),
berisi sederetan tanda lidi yang digoreskan di tiga lajur memanjang pada tulang
itu. Tafsiran umum adalah bahwa tulang Ishango menunjukkan peragaan terkuno
yang sudah diketahui tentang barisan bilangan prima.
2.1.1.1
Teori Bilangan pada Suku Bangsa Babilonia
Matematika
Babilonia merujuk pada seluruh matematika yang dikembangkan oleh bangsa
Mesopotamia (kini Iraq) sejak permulaan Sumeria hingga permulaan peradaban
helenistik. Dinamai "Matematika Babilonia" karena peran utama kawasan
Babilonia sebagai tempat untuk belajar. Pada zaman peradaban helenistik,
Matematika Babilonia berpadu dengan Matematika Yunani dan Mesir untuk
membangkitkan Matematika Yunani. Kemudian di bawah Kekhalifahan Islam,
Mesopotamia, terkhusus Baghdad, sekali lagi menjadi pusat penting pengkajian
Matematika Islam.
Bertentangan
dengan langkanya sumber pada Matematika Mesir, pengetahuan Matematika Babilonia
diturunkan dari lebih daripada 400 lempengan tanah liat yang digali sejak
1850-an. Lempengan ditulis dalam tulisan paku ketika tanah liat masih basah,
dan dibakar di dalam tungku atau dijemur di bawah terik matahari. Beberapa di
antaranya adalah karya rumahan.
Bukti terdini
matematika tertulis adalah karya bangsa Sumeria, yang membangun peradaban kuno
di Mesopotamia. Mereka mengembangkan sistem rumit metrologi sejak tahun 3000
SM. Dari kira-kira 2500 SM ke muka, bangsa Sumeria menuliskan tabel perkalian
pada lempengan tanah liat dan berurusan dengan latihan-latihan geometri dan
soal-soal pembagian. Jejak terdini sistem bilangan Babilonia juga merujuk pada
periode ini.
Sebagian besar
lempengan tanah liat yang sudah diketahui berasal dari tahun 1800 sampai 1600
SM, dan meliputi topik-topik pecahan, aljabar, persamaan kuadrat dan kubik, dan
perhitungan bilangan regular, invers perkalian, dan bilangan prima kembar.
Lempengan itu juga meliputi tabel perkalian dan metode penyelesaian persamaan
linear dan persamaan kuadrat. Lempengan Babilonia 7289 SM memberikan hampiran
bagi
yang akurat sampai lima
tempat desimal.
Matematika Babilonia
ditulis menggunakan sistem bilangan seksagesimal (basis-60). Dari sinilah
diturunkannya penggunaan bilangan 60 detik untuk semenit, 60 menit untuk satu
jam, dan 360 (60 x 6) derajat untuk satu putaran lingkaran, juga penggunaan
detik dan menit pada busur lingkaran yang melambangkan pecahan derajat. Juga,
tidak seperti orang Mesir, Yunani, dan Romawi, orang Babilonia memiliki sistem
nilai-tempat yang sejati, di mana angka-angka yang dituliskan di lajur lebih
kiri menyatakan nilai yang lebih besar, seperti di dalam sistem desimal.
Sistem Numerasi Babylonia (±2000 SM), pertama kali
orang yang mengenal bilangan 0 (nol) adalah Babylonian.

2.1.1.2
Teori Bilangan pada Suku Bangsa Mesir Kuno
Matematika Mesir
merujuk pada matematika yang ditulis di dalam bahasa Mesir. Sejak peradaban
helenistik matematika Mesir melebur dengan matematika Yunani dan Babilonia yang
membangkitkan Matematika helenistik. Pengkajian matematika di Mesir berlanjut
di bawah Khilafah Islam sebagai bagian dari matematika Islam, ketika bahasa
Arab menjadi bahasa tertulis bagi kaum terpelajar Mesir.
Tulisan
matematika Mesir yang paling panjang adalah Lembaran Rhind (kadang-kadang
disebut juga "Lembaran Ahmes" berdasarkan penulisnya), diperkirakan
berasal dari tahun 1650 SM tetapi mungkin lembaran itu adalah salinan dari
dokumen yang lebih tua dari Kerajaan Tengah yaitu dari tahun 2000-1800 SM.
Lembaran itu adalah manual instruksi bagi pelajar aritmetika dan geometri.
Selain memberikan rumus-rumus luas dan cara-cara perkalian, pembagian, dan
pengerjaan pecahan, lembaran itu juga menjadi bukti bagi pengetahuan matematika
lainnya, termasuk bilangan komposit dan prima; rata-rata aritmetika, geometri,
dan harmonik; dan pemahaman sederhana Saringan Eratosthenes dan teori bilangan
sempurna (yaitu, bilangan 6). Lembaran itu juga berisi cara menyelesaikan
persamaan linear orde satu juga barisan aritmetika dan geometri.
Naskah
matematika Mesir penting lainnya adalah lembaran Moskwa, juga dari zaman
Kerajaan Pertengahan, bertarikh kira-kira 1890 SM. Naskah ini berisikan soal
kata atau soal cerita, yang barangkali ditujukan sebagai hiburan.
Sistem Numerasi Mesir Kuno (±3000 SM) bersifat
aditif, dimana nilai suatu bilangan merupakan hasil penjumlahan nilai-nilai
lambang-lambangnya.
Lambang dan simbol bilangan Mesir
|
|
|
|
|
|
|

2.1.1.3
Teori Bilangan pada Suku Bangsa India
Sulba Sutras
(kira-kira 800-500 SM) merupakan tulisan-tulisan geometri yang menggunakan
bilangan irasional, bilangan prima, aturan tiga dan akar kubik; menghitung akar
kuadrat dari 2 sampai sebagian dari seratus ribuan; memberikan metode
konstruksi lingkaran yang luasnya menghampiri persegi yang diberikan,
menyelesaikan persamaan linear dan kuadrat; mengembangkan tripel Pythagoras
secara aljabar, dan memberikan pernyataan dan bukti numerik untuk teorema Pythagoras.
Panini
(kira-kira abad ke-5 SM) yang merumuskan aturan-aturan tata bahasa Sanskerta
menggunakan notasi yang sama dengan notasi matematika modern, dan menggunakan
aturan-aturan meta, transformasi, dan rekursi. Pingala (kira-kira abad ke-3
sampai abad pertama SM) di dalam risalah prosodynya menggunakan alat yang
bersesuaian dengan sistem bilangan biner. Pembahasannya tentang kombinatorika
bersesuaian dengan versi dasar dari teorema binomial. Karya Pingala juga berisi
gagasan dasar tentang bilangan Fibonacci.
Pada sekitar
abad ke 6 SM, kelompok Pythagoras mengembangkan sifat-sifat bilangan lengkap
(perfect number), bilangan bersekawan (amicable number), bilangan prima (prime
number), bilangan segitiga (triangular number), bilangan bujur sangkar (square number),
bilangan segilima (pentagonal number) serta bilangan-bilangan segibanyak
(figurate numbers) yang lain. Salah satu sifat bilangan segitiga yang terkenal
sampai sekarang disebut triple Pythagoras, yaitu : a.a + b.b = c.c yang
ditemukannya melalui perhitungan luas daerah bujur sangkar yang sisi-sisinya
merupakan sisi-sisi dari segitiga siku-siku dengan sisi miring (hypotenosa)
adalah c, dan sisi yang lain adalah a dan b. Hasil kajian yang lain yang sangat
popular sampai sekarang adalah pembedaan bilangan prima dan bilangan komposit.
Bilangan prima adalah bilangan bulat positif lebih dari satu yang tidak
memiliki Faktor positif kecuali 1 dan bilangan itu sendiri. Bilangan positif
selain satu dan selain bilangan prima disebut bilangan komposit. Catatan sejarah
menunjukkan bahwa masalah tentang bilangan prima telah menarik perhatian
matematikawan selama ribuan tahun, terutama yang berkaitan dengan berapa
banyaknya bilangan prima dan bagaimana rumus yang dapat digunakan untuk mencari
dan membuat daftar bilangan prima.
Dengan
berkembangnya sistem numerasi, berkembang pula cara atau prosedur aritmetis
untuk landasan kerja, terutama untuk menjawab permasalahan umum, melalui
langkah-langkah tertentu, yang jelas yang disebut dengan algoritma. Awal dari
algoritma dikerjakan oleh Euclid. Pada sekitar abad 4 S.M, Euclid mengembangkan
konsep-konsep dasar geometri dan teori bilangan. Buku Euclid yang ke VII memuat
suatu algoritma untuk mencari Faktor Persekutuan Terbesar dari dua bilangan
bulat positif dengan menggunakan suatu teknik atau prosedur yang efisien,
melalui sejumlah langkah yang terhingga. Kata algoritma berasal dari algorism.
Pada zaman Euclid, istilah ini belum dikenal. Kata Algorism bersumber dari nama
seorang muslim dan penulis buku terkenal pada tahun 825 M., yaitu Abu Ja’far
Muhammed ibn Musa Al-Khowarizmi. Bagian akhir dari namanya (Al-Khowarizmi),
mengilhami lahirnya istilah Algorism. Istilah algoritma masuk kosakata
kebanyakan orang pada saat awal revolusi komputer, yaitu akhir tahun 1950.
Pada abad ke 3
S.M., perkembangan teori bilangan ditandai oleh hasil kerja Erathosthenes, yang
sekarang terkenal dengan nama Saringan Erastosthenes (The Sieve of
Erastosthenes). Dalam enam abad berikutnya, Diopanthus menerbitkan buku yang
bernama Arithmetika, yang membahas penyelesaian persamaan didalam bilangan
bulat dan bilangan rasional, dalam bentuk lambang (bukan bentuk/bangun
geometris seperti yang dikembangkan oleh Euclid). Dengan kerja bentuk lambang
ini, Diopanthus disebut sebagai salah satu pendiri aljabar.
Berikut ini adalah
Simbol-simbol bilangan yang ditemukan :

Bilangan Cunieform yang
digunakan bangsa
Babilonia sejak tahun 5000 SM

Lambang bilangan bangsa
Hindu-Arab kuno
pada abad ke-10

Lambang bilangan yang
digunakan bangsa Maya
di Amerika pada tahun
500 SM

Lambang bilangan
Hieroglif yang digunakan
bangsa
Mesir Kuno

Lambang bilangan bangsa
Arab pada abad ke-11

Lambang bilangan bangsa
Yunani Kuno

Lambang
bilangan bangsa Romawi
2.1.2
Teori Bilangan pada Masa Sejarah (Masehi)
Awal kebangkitan
teori bilangan modern dipelopori oleh Pierre de Fermat (1601-1665), Leonhard
Euler (1707-1783), J.L Lagrange (1736-1813), A.M. Legendre (1752-1833),
Dirichlet (1805-1859), Dedekind (1831-1916), Riemann (1826-1866), Giussepe
Peano (1858-1932), Poisson (1866-1962), dan Hadamard (1865-1963). Sebagai
seorang pangeran matematika, Gauss begitu terpesona terhadap keindahan dan
kecantikan teori bilangan, dan untuk melukiskannya, ia menyebut teori bilangan
sebagai the queen of mathematics.
Pada masa ini,
teori bilangan tidak hanya berkembang sebatas konsep, tapi juga banyak
diaplikasikan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini
dapat dilihat pada pemanfaatan konsep bilangan dalam metode kode baris,
kriptografi, komputer, dan lain sebagainya.
2.2
Definisi Bilangan
Bilangan adalah suatu konsep matematika yang
bersifat abstrak yang digunakan untuk pencacahan dan pengukuran. Simbol ataupun
lambang yang digunakan untuk mewakili suatu bilangan disebut sebagai angka atau
lambang bilangan. Misalnya, tulisan atau ketikan : 1 yang terlihat saat ini
bukanlah bilangan 1, melainkan hanya lambang dari bilangan 1 yang tertangkap
oleh indera penglihatan berkat keberadaan unsur-unsur kimia yang peka cahaya
dan digunakan untuk menampilkan warna dan gambar. Demikian pula jika kita
melihat lambang yang sama di papan tulis, yang terlihat bukanlah bilangan 1,
melainkan serbuk dari kapur tulis yang melambangkan bilangan 1.
2.3
Bilangan dan Himpunan Bilangan
Pada zaman
sekarang ini, sistem penulisan bilangan yang dikenal adalah penulisan yang
dikembangkan oleh bangsa Arab (Angka Arab) dengan angka pokoknya 0, 1, 2, 3, 4,
5, 6, 7, 8, 9, sedangkan angka yang lebih dari 9, ditulis dengan
mengkombinasikan angka-angka pokok tadi. Untuk keperluan menghitung, maka
orang-orang mulai memerlukan “bilangan penghitung” (counting number) yaitu
bilangan yang dimulai dari 1, 2, 3, 4, 5, ... dan seterusnya. Dimana bilangan
penghitung tersebut sekarang ini dikenal dengan nama bilangan-bilangan asli,
dan apabila bilangan-bilangan asli dihimpun menjadi sebuah himpunan, dan
sebutlah himpunan itu dengan N, maka di dalam matematika, himpunan semua
bilangan asli N tersebut dikenal sebagai N = {1, 2, 3, 4, 5, ... }.
Untuk keperluan
lainnya kemudian orang memperluas bilangan asli menjadi bilangan bulat,
sehingga munculah himpunan semua bilangan bulat. Di dalam bahasa asing
disingkat “I” (integer), himpunan bilangan bulat I dinyatakan dengan I = {... ,
-3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, ...}. dari bilangan bulat diperluas menjadi bilangan
rasional. Bilangan rasional biasanya diberi nama dengan “Q” singkatan dari
Quotient yang berarti rasio atau perbandigan. Himpunan bilangan rasional Q
dinyatakan dengan Q = {
}.
Karena
,
hubungan ketiga himpunan bilangan tersebut dapat digambarkan melalui diagram
venn berikut:

Kemudian untuk
keperluan tertentu orang-orang menciptakan bilangan Irasional, apabila himpunan
semua bilangan irasional diberi nama H, maka himpunan semua bilangan irasional
H dan himpunan semua bilangan rasional Q merupakan dua buah himpunan yang
saling lepas, sehingga H
Q =
(himpunan kosong) sedangkan gabungan dari
himpunan rasional dan irasional disebut himpunan semua bilangan real R atau H
Q = R.
Hubungan antara
kelima himpunan N, I, Q, H, dan R dapat diperlihatkan oleh diagram Venn
berikut:

Bilangan yang
bukan merupakan bilangan real disebut “bilangan imajiner” dan biasanya diberi
nama dengan huruf i atau i =
. Dengan dikenalnya bilangan imajiner maka
kita akan mengenal bilangan kompleks dan diberi nama C, yang dinyatakan sebagai

Hubungan antara
ketujuh himpuan N, I, Q, H, R, M, dan C ditunjukan oleh diagram venn, tampak
bahwa N
I
Q
R
C, H
R
C, M
C, Q
H =
dan M
R =
.

2.4
Macam-Macam Bilangan
2.4.1
Bilangan Asli ( N )
Bilangan asli adalah bilangan bulat positif yang
bukan nol, yaitu unsur himpunan N={1, 2, 3, 4, ...}. Bilangan asli merupakan
salah satu konsep matematika yang paling sederhana dan termasuk konsep pertama
yang bisa dipelajari dan dimengerti oleh manusia, bahkan beberapa penelitian
menunjukan beberapa jenis kera besar (inggris:apes) juga bisa mempelajarinya.
Bilangan asli adalah jenis pertama dari bilangan yang digunakan untuk
membilang, menghitung, membagi dsb. Bilangan asli dapat digunakan untuk
mengurutkan dan mendefinisikan sifat terhitung suatu himpunan.
2.4.2
Bilangan Cacah (C)
Bilangan cacah adalah bilangan bulat yang tidak
negatif, yaitu C= {0, 1, 2, 3, 4, ...}. Dengan kata lain himpunan bilangan
cacah adalah himpunan bilangan asli ditambah 0.
2.4.3
Bilangan Bulat ( I )
Bilangan
bulat terdiri dari bilangan cacah (0, 1, 2, ...) dan negatifnya (-1, -2, -3,
...); -0 adalah sama dengan 0 dan tidak dimasukkan lagi secara terpisah). Pada
bilangan bulat bisa dilakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan
pembagian yang masing-masing operasi mempunyai sifat-sifat tertentu. Sistem
bilangan bulat tercipta sebagai perluasan sistem bilangan cacah untuk
mendapatkan sistem bilangan yang tertutup terhadap semua operasi hitung.
Perluasan tersebut dilakukan dengan mencari bilangan yang tertutup terhadap
operasi pengurangan.
-
Semua bilangan di
sebelah kiri nol adalah bilangan negatif
-
Semua
bilangan di sebelah kiri nol adalah bilangan positif
2.4.4
Bilangan Rasional ( H )
|
Bilangan rasional adalah bilangan yang
dinyatakan sebagai
dimana a dan b bilangan bulat dan b tidak sama
dengan 0. Bilangan rasional merupakan bilangan
yang mempunyai jumlah kurang atau lebih dari utuh, terdiri dari pembilang dan
penyebut. Pembilang merupakan bilangan
yang terbagi, sedangkan penyebut merupakan bilangan pembagi.
Contoh
:
|
4 à pembilang
5 à penyebut
|
2 à pembilang
3 à penyebut
2.4.5
Bilangan Irasional ( Q )
Bilangan
irasional adalah bilangan riil yang tidak bisa dibagi atau hasil baginya tidak
pernah berhenti. Bilangan irasional tidak dapat dinyatakan dengan a/b. dengan a
dan b sebagai bilangan bulat dan b tidak sama dengan 0 (nol). Contoh yang
paling popular dari bilangan irasional adalah bilangan
,
dan bilangan e.
Bilangan
sebetulnya tidak tepat = 3,14 tetapi =
3,1415926535... atau = 3,14159 26535 89793 23846 26433 83279 50288 41971 69399
... Untuk bilangan
yaitu bernilai = 1,41421356237309504880168872
... atau = 1,41421 35623 73095 04880 16887 24209 69807 85696 71875 37694 80731
76679 73798 ... (hingga 700 digit belum selesai, yang ditemukan oleh pakar
matematika Jepang dengan batuan komputer ), untuk bilangan e yaitu bernilai =
2,7182818 ...
2.4.6
Bilangan Riil ( R )
Bilangan riil atau real number menyatakan angka yang
bisa dituliskan dalam bentuk desimal, seperti 2,4871773339 ... atau 3,25678.
Bilangan real meliputi bilangan rasional, seperti 42 dan
,
dan bilangan irasional seperti
dan bilangan akar, juga dapat
direpresentasikan sebagai salah satu titik dalam garis bilangan. Definisi
popular dari bilangan riil meliputi kelas ekivalen dari deret Cauchy rasional,
irisan Dedekind, dan deret Arhimides.
2.4.7
Bilangan Imajiner
Bilangan
imajiner adalah bilangan yang mempunyai sifat
.
Bilangan ini biasanya merupakan bagian dari bilangan kompleks. Selain bagian
imajiner, bilangan komplek mempunyai bagian riil. Secara definisi, bagian bilangan
imajiner ini diperoleh dari penyelesaian persamaan kuadratik
atau 
2.4.8
Bilangan Kompleks
Bilangan
kompleks adalah bilangan yang berbentuk
.
Dimana a dan b adalah bilangan riil dan I adalah bilangan imajiner tertentu
yang mempunyai sifat
.
Bilangan riil a disebut juga bagian riil dari bilangan kompleks dan bilangan
real b disebut bagian imajiner. Jika pada suatu bilangan kompleks, nilai b
adalah 0, maka kompleks tersebut menjadi sama dengan bilangan real a.
Bilangan kompleks dapat ditambah, dikurang, dikali
dan dibagi seperti bilangan riil, namun bilangan kompleks juga mempunyai
sifat-sifat tambahan yang menarik. Misalnya, setiap persamaan aljabar
polinomial mempunyai solusi bilangan kompleks, tidak seperti bilangan riil yang
hanya memiliki sebagian.
Selain
bilangan-bilangan di atas, juga terdapat beberapa bilangan lainnya, yaitu :
2.4.9
Bilangan Nol
Konsep bilangan
nol telah berkembang sejak zaman Babilonia danYunani kuno, yang pada saat itu
diartikan sebagai ketiadaan dari sesuatu. Konsep bilangan nol dan
sifat-sifatnya terus berkembang dari waktu ke waktu.
Sejarah
diketemukannya bilangan nol adalah sekitar 300 SM, orang Babilonia telah memulai
penggunaan dua baji miring (//) untuk menunjukkan sebuah tempat kosong pada
abax (alat hitung pertama bangsa Babilonia, lebih dikenal dengan abacus).
Hingga pada abad
ke-7, Brahmagupta seorang matematikawan India memperkenalkan beberapa sifat
bilangan nol. Sifat-sifatnya adalah suatu bilangan bila dijumlahkan dengan nol
adalah tetap, demikian pula sebuah bilangan bila dikalikan dengan nol akan
menjadi nol. Tetapi, Brahmagupta menemui kesulitan dan cenderung ke arah yang
salah, ketika berhadapan dengan pembagian oleh bilangan nol. Hal ini terus
menjadi topik penelitian pada saat itu, bahkan sampai 200 tahun kemudian.
Misalnya tahun 830, Mahavira (India) mempertegas hasil-hasil Brahmagupta, dan
bahkan menyatakan bahwa “sebuah bilangan dibagi oleh nol adalah tetap”. Tentu
saja ini suatu kesalahan fatal. Tetapi, hal ini tetap harus sangat dihargai
untuk ukuran saat itu.
Ide-ide brilian
dari matematikawan India selanjutnya dipelajari oleh matematikawan Muslim dan
Arab. Hal ini terjadi pada tahap-tahap awal ketika matematikawan Al-Khawarizmi
meneliti sistem perhitungan Hindu (India) yang menggambarkan sistem nilai
tempat dari bilangan yang melibatkan bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9.
Al-Khawarizmi adalah yang pertama kali memperkenalkan penggunaan bilangan nol
sebagai nilai tempat dalam basis sepuluh. Sistem ini disebut sebagai sistem
bilangan desimal.
2.4.10
Bilangan Sempurna
Bilangan
sempurna adalah bilangan bulat yang juga merupakan jumlah dari pembagi
positifnya, tidak termasuk bilangan itu sendiri. Oleh karena itu, 6 adalah
bilangan sempurna, karena 1, 2, dan 3 adalah pembagi dari 6, dan 1 + 2 + 3 = 6.
Bilangan sempurna berikutnya adalah 28 = 1 + 2 + 4 + 7 + 14. Diikuti dengan
496, dan 8128. Hanya empat bilangan sempurna yang pertama inilah yang diketahui
oleh ahli zaman Yunani Kuno.
Saat ini, telah
ditemukan rumus dari bilangan sempurna, sehingga kita dapat mencari bilangan
sempurna lainnya selain 6, 28, 496, dan 8128. Rumus tersebut adalah :
Bilangan sempurna =
2.4.11
Bilangan Bersekawan
Dua buah
bilangan a dan b dikatakan bersekawan apabila jumlah faktor prima dari bilangan
a sama dengan bilangan b dan jumlah faktor prima dari bilangan b sama dengan
bilangan a. Contohnya adalah bilangan 220 dengan 284; faktor prima dari 220 adalah
1, 2, 4, 5, 10, 11, 20, 22, 44, 55 dan 110, dimana jumlahnya sama dengan 284,
dan faktor prima dari 284 adalah 1, 2, 4, 71 dan 142, dimana jumlahnya sama
dengan 220. Beberapa pasangan bilangan bersekawan lainnya adalah (220, 284),
(1184, 1210), (2620, 2924), (5020, 5564), dan (6232, 6368).
|
Bilangan-bilangan tersebut dapat
digambarkan dalam sebuah bagan bilangan berikut :
![]() |
DAFTAR PUSTAKA
Aditya., (2010), Sejarah Sistem
Bilangan. [Online]. Tersedia: http://www.
adit38.wordpress.com/2010/05/19/asal-usul-sistem-bilangan [13 Oktober 2010]
Gauss, Carl Friedrich., (2010),
[Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/
Gauss [13 Oktober 2010]
Legendre, Adrien-Marie., (2010),
[Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Adrien-Marie_Legendre
[13 Oktober 2010] Peirce, Benyamin., (2010), [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Benjamin_Peirce
[13 Oktober 2010]
Pengertian Sistem Bilangan., (2010),
[Online]. Tersedia: http://www.scribd.com/doc/
25769841/pengertian-sistem-bilangan [13 Oktober 2010]
Sejarah Matematika., (2010), [Online].
Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/
Sejarah_matematika [13 oktober 2010]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar