Refleksi 4 : Filsafat ilmu
Refleksi Perkuliahan Filsafat
Ilmu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. Pada pertemuan ke-4 Pascasarjana Pendidikan
Matematika Kelas B di hari rabu tanggal 7 oktober 2015 pukul 7.30.10 s.d. 9.10
di ruang Lab. Mat. FMIPA UNY
Sungguh sangat
mengejutkan pada perkuliahan filsafat kali ini, pada pertemuan ke-4 ini yang
diawali dengan Quis. Quis yang merupakan pertama ini yang memuat
pertanyaan-pertanyaan yang sangat simple dan sederhana
serta memuat sebanyak 50 soal namun hasilnya sangat
mengejutkan. Dari sekian banyaknya soal-soal yang diberikan hanya beberapa
orang yang mendapat skor antara 1-10 dari skala 100 sungguh sangat miris.
Inilah yang menandakan bahwa pemahaman kami tentang filsafat masih perlu diakji
dan diperdalam kembali. Pertanyaan-pertanyan yang hampir setiap hari kita temui
malah dari sisi filsafat jawaban dari pertanyaan itu berbea dengan yang lainya,
contoh pertanyaannya sebagai berikut:
1. Siapa nama
Anda?
Jawaban : belum tentu rofi
2. Berapa umur
Anda?
Jawaban : kurang dari/lebih dari 23 tahun
3. Kapan Anda
dilahirkan?
Jawaban : pada masa lampau
4. Kenapa Anda
tidur?
Jawaban : karena adanya potensi
5. Siapakah yang
Anda sayangi?
Jawaban : subjek, predikat, wadah, isi, objek,
dan sifat
6. Dan
seterusnya..
Dari rangkaian
pertanyaan dan jawaban di atas jelaslah kiranya perbedaan cara pandang filsafat
dengan yang bukan filsafat. Pertanyaan yang sederhana ternyata memiliki jawaban
yang belum pasti karena sesungguhnya apapun yang terjadi ataupun fenomena yang
terjadi setiap saat itu berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan yang
terjadi diakibatkan karena keberadaan ruang dan waktu tersebut, misalnya nama,
nama yang merupakan predikat selau berubah seiring berjalannya waktu, pada saat
anda lahir sampai sekarang pastilah mengalami perubahan anda yang kemarin lapar
dan hari ini kenyang, anda yang sebelumnya belum punya gelar sekarang punya
gelar dan begitu setrusnya. Sehingga dapat disimpulakan bahwa tidak adan
jawaban yang pasti tentang filsafat kecuali terkait Pencipta Tuhan yang Maha
Esa yang dari dulu hingga sekarang Absolut tidak mengalami perubahan.
Namun,
memaknai filsafat yang sebenarnya hanya bisa diartikan oleh orang dewasa yang
telah mampu mengolah olah pikirnya secara rasional serta mendalam. Filsafat
tidak akan mungkin dipahami oleh anak kecil, disinilah perbedaan letak pola
pikir orang dewasa dan anak-anak.
Dalam hakekat
kehidupan membahas bahwa adanya pencipta alam semesta. Tuhan sebagai pencipta
alam semesta beserta isinya tentunya mempunyai zat yang Agung. Zat Tuhan dalam
setiap agama mempunyai aturan-aturan dan kepercayaannya masing-masing. Maka
jika ada yang mengatakan bahwa telah menemukan zat Tuhan maka hal ini tidak
mengherankan sebab “aku pegang kepalaku, aku pegang rambutku maka aku
telah memegang zat Tuhan” karena rambut, kepala dan
sebagainya merupakan zat Tuhan yang bisa bermaksud ciptaaNya, milikNya, serta
kuasaNya. Maka dari itu syukuri segala nikmat, ciptaan serta yang ada di muka
bumi jagalah sesuai dengan kodratnya yang diberikan karena itulah sebuah zat
Tuhan Pencipta Alam Semesta.
Hakekat kehidupan juga terkait dengan kehidupan yang harmoni,
harmoni dalam artian seimbang dan selaras antara fatal dan vital. Hidup fatal adalah kehidupan orang-orang yang menyerahkan sepenuhnya
kehidupannya kepada nasib dan takdirnya tanpa adanya semangat dan perjuangan
sehingga hidupnya bagaikan air yang mengalir yang mengikuti arus serta terbawa
arus kemanapun arahnya. Sedangkan hidup vital adalah kehidupan orang-orang yang hanya mengandalkan ikhtiar atau
usaha saja, kehidupan orang vital ini tidak percaya akan kekuatan doa, takdir
serta nasib. Pola pikir kaum vitalisme tersebut menganggap bahwa takdir itu
ditentukan sendiri oleh usaha manusia seutuhnya, besarnya kesuksesan maka
usahanya pun mesti besar. Maka sebenar-benranya hidup adalah keseimbangan
dinamika interaktif yang selaras antara fatal dan vital, sebesar-besarnya usaha manusia di muka bumi ini jika Allah SWT
menetapkan takdirnya tidak seperti itu maka bukan itulah yang terjadi. Takdir
yang telah terjadi inilah sebuah nasib sedangkan takdir yang belum terjadi
itulah yang menjadi ikhtiar kita di muka bumi ini. Allah SWT telah bersabda
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau bukan dia sendiri yang
mengubahnya” inilah bukti betapa Adilnya sang Pencipta walaupun Allah SWT maha
berkehendak tetaplah diberikan kesempatan olehNya untuk merubahnya sebelum
terjadi dengan ikhtiar ini. Untuk lebih mendalami tentang konsep fatal dan
vital ini Bapak Prof. Marsigit berbagi cerita hidupnya, simaklah cerita hidp
beliau berikut ini:
Pada masa Beliau masih kecil, beliau telah dianugrahi sebuah mimpi
yang mana mimpi-mimpi tersebut berupa angka lotre pada masa di Cilacap ada
lotre yang dimana angka yang Beliau mimpikan itulah angka untuk pemenang lotre.
Maka dari itu ketika Beliau tidur mimpinya dicatatat.
Selain cerita
mimpi tersebut di atas adapula carita hidup Beliau yang lain yang dimana sejak
SMA Beliau telah ada yang menebak bahwa nantinya Beliau akan manejadi
professor, orang tersebut adalah seorang Romo Pastur yang berbisik kepada kakak
Beliau sedang menengok kakaknya yang sedang sakit namun maksud dari perkataan
Romo tersebut barulah terungkap dengan pasti ketika Beliau Bapak Marsigit telah
jadi professor. Inilah bukti bahwa adanya fatal dan vital itu, takdir telah
ditentuka oleh Allah SWT sejak kita lahir namun seiring berjalannya waktu kita
haruslah berikhtiar untuk menggapai takdir itu sebelum kita tau hasil yang
sebenarnya. Ingatlah bahwa tidak ada usaha yang sia-sia Allah SWT selalu
memberikan yang terbaik dan mengetahui yang terbaik bagi kita hambaNya. Semoga
dengan berlajar filsafat ini kita lebih mampu memaknai hidup lebih bermakna dan
bermanfaat. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar