Sabtu, 31 Oktober 2015

Orang Yang Cerdas Menurut Rasulullah SAW

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
'' ORANG YANG CERDAS MENURUT RASULULLAH SAW ''
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ
“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya).” (HR. At-Tirmidzi).
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)
Gemerlapnya dunia dan kerasnya persaingan hidup ini, baik di ranah politik maupun ekonomi, sering kali membuat kita lupa akan mengingat akhirat dan kematian. Jauh-jauh hari Rasulullah Saw. telah mengingatkan kepada kita akan hal itu, bahwa kehidupan dunia yang fana ini benar-benar sangatlah singkat sekali jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal nan abadi. Sebagaimana yang pernah diungkapkan dalam sebuah haditsnya.
عن المستورد بن شداد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: والله ما الدنيا في الأخرة إلامثلَ ما يجعل أحد كم إصبعه في اليم فلينظر بم يرجع. (رواه مسلم)
Dari Al-Mustaurid bin syadad RA. Berkata, bahwa Rasulullah Saw. besabda: “Demi Allah! Tidaklah perbandingan dunia dengan akhirat itu melainkan seperti salah seorang diantara kalian yang memasukkan jarinya kedalam lautan, maka lihatlah seberapa banyak air yang ikut pada jari itu. (HR. muslim)
Subhanallah, sungguh tidak dapat kita bayangkan singkatnya kehidupan dunia ini yang hanya berupa tetesan air yang sangat sedikit di satu jari bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang sangat lama dan luas laksana lautan.
Sudah menjadi sunnatullah, bahwa setiap makhlukNya yang bernyawa di jagat raya ini akan mengalami yang namanya mati. Sebagaimana Allah SWT. berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)
Kita sempat dihebohkan dengan kabar tewasnya pemimpin besar Libya yang mati ditangan dan kaki rakyatnya sendiri. Sungguh ini sebuah pelajaran sangat berharga bagi kita sebagai seorang muslim. Bahwa betapa pun berkuasanya manusia di muka bumi ini dan seberapa banyaknya harta kekayaan yang ia miliki, pasti dan pasti kematian itu akan selalu menjemputnya kapan saja.
Sungguh kematian itu tidak pernah mengenal usia, baik itu tua maupun muda. Maka janganlah sekali-kali kita yang masih muda, yang masih mempunyai tubuh segar bugar, berwajah tampan, dan kesehatan yang terjamin, mengira akan jauh dari kematian. Bukankah Allah SWT. telah mengingatkan kita, bahwa kematian itu akan menjemput kita kapan saja dan tak seorang pun mampu untuk menghalanginya. Sebagaimana firmanNya,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
Dan setiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang batas waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.(QS. Al-A’raf: 34)
Ajal setiap manusia telah ditulis oleh Allah pada saat dia masih berupa janin didalam rahim ibunya dalam umur seratus dua puluh hari, kematian itu ditulis bersamaan dengan rizki, amal, kebahagiaan, dan kesengsaraannya. Apabila ajal tersebut tiba, maka ia tiba tepat waktu, tidak mungkin ditunda atau disegerakan sedetik pun dan ia tiba di bumi mana pun orang tersebut berada, tanpa dia ketahui. Bisa saja ajal kita nanti akan menjemput kita disaat kita sedang sibuk di kantor, di kampus atau diperantauan negeri maroko ini, dan bahkan bisa jadi di majlis yang mulia ini. Subhanallah. Sebagaimana Allah telah berfirman,
وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
"Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati." (QS. Luqman: 34).
Imam Qurthubi rahimahullah beliau meriwayatkan, bahwa Ad- Daqqaq berkata, ‘’Barang siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara:
1. Bersegera untuk bertaubat
2. Hatinya merasa cukup
3. Giat/semangat dalam beribadah.
Sebaliknya, barang siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara:
1. Menunda taubat
2. Tidak ridha dengan perasaan cukup
3. Malas dalam beribadah.”
Suatu hari Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau
bertanya kepada mereka: Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid yang pertama menjawab: Orang tua
Murid yang kedua menjawab: Guru
Murid yang ketiga menjawab: Teman
Murid yang keempat menjawab: Kaum kerabat.
Lalu Imam Ghazali mengatakan: Semua jawaban kalian itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan
mati “كل نفس ذائقة الموت” ( Surah Ali-Imran:185) .
` Kita ingat bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “Cukuplah kematian itu sebagai nasehat.” (HR. Thabrani dan Baihaqi). Artinya bahwa mati atau kematian sebenarnya sudahlah cukup menjadi nasehat agar manusia selalu ingat dan beribadah kepada Allah SWT. agar manusia menjauhi segala macam bentuk kemaksiatan, pemerintah yang berkuasa tidak lagi melakukan korupsi yang membuat rakyat menjadi sengsara, hakim tidak lagi menerima suap yang membuat kasus hukum menjadi buram. Dan jika seluruh manusia menjadikan mati sebagai nasehat, maka dunia ini akan tentram, damai, dan sejahtera. Tidak ada lagi kejahatan yang dilakukan antar sesama manusia.
Maka itulah ketika Rasulullah Saw ditanya, siapakah orang yang sebenarnya paling cerdas, beliau menjawab,
الكيس من دان نفسه, وعمل لما بعد الموت والعاجز من اتبع هواها وتمني على الله الأماني (رواه الترمذي)
Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menundukkan hawa nafsu dan beramal untuk bekal sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan panjang angan-angan (Tuulul ‘amal).
Sahabat Abdullah bin Umar pernah bertanya kepada Rasulullah, ‘‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya diantara mereka”. Lalu bertanya lagi, ‘‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’’. Beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ
“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)
Kenapa orang yang selalu mengingat mati dan mempersiapkannya dengan baik disebut Rasulullah sebagai orang yang cerdas. Karena orang yang selalu mengingat mati adalah orang yang berpikir rasional dan berpikir jauh ke depan. Kehidupan dunia hanyalah sesaat, sedangkan kehidupan yang kekal adalah di akhirat dan kehidupan yang kekal itu terjadi setelah kematian.
Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat tempat menuai. Kalau seseorang menanaminya dengan kebaikan disertai keimanan kepada Allah SWT. Insya Allah, akan Allah balas dengan pahala surga. Sedangkan jika ia menanaminya dengan kemaksiatan, maka nerakalah balasannya yang sudah Allah persiapkan sebagai tempat peristirahatannya.
Sebagaimana yang tertera dalam hadits diatas, maka orang yang cerdas menurut Rasulullah itu diantaranya sebagai berikut:
1. Menundukkan hawa nafsu.
Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya adalah orang yang cerdas, ia memahami bahwa nafsu jika dipenuhi begitu saja tanpa di kendalikan, maka akan mempunyai akibat negatif yang fatal. Sehingga disini kecerdasan itu tidak diukur dengan tingkat pendidikan maupun intelektualitas semata.
2. Banyak mengingat mati
Orang yang memikirkan kematian dengan segala kaitannya, kemudian berusaha mempersiapkan diri untuk menjemput kematian itu, maka itulah termasuk orang yang cerdas (Akayyis). Sebaliknya, orang yang tidak pernah memikirkan tentang kematian dan tidak mempersiapkan diri menghadapi kematian bisa dikatakan sebagai orang yang lemah/tidak cerdas (al-‘ajiz).
3. Beramal untuk Akhirat.
Hanya orang-orang yang cerdas (berakal) sajalah yang akan memikirkan kehidupan akhirat dan akan beramal untuk kebahagiaan di akhirat kelak dengan tidak melupakan kebahagiaan dunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Sebagaimana firman Allah SWT.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka (bumi) ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS.Al-Qashash: 77)
Untuk itu, marilah kita renungkan arti kehidupan ini dan selalu kita ingat kematian serta bertanya pada diri kita, sudah siapkah jika malaikat maut datang menjemput. Sudahkah kita beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Menolong kepada sesama, berbakti kepada orang tua, menunaikan amanah rakyat, berkata jujur kepada atasan, bersikap adil kepada bawahan, dan mengamalkan ilmu yang kita miliki. Sudahkah kita menjauhi segala macam bentuk kemaksiatan. Meninggalkan korupsi, menggelapkan uang rakyat dan berlaku curang demi meraih jabatan dan uang.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar