Sabtu, 19 September 2015

Filsafat Ilmu ( Pertemuan ke-2 )



Refleksi Pertemuan ke-2

Perkuliahan kedua Filsafat Ilmu S2 Program Studi Pendidikan Matematika Kelas B, hari Rabu tanggal 16 September 2015 di ruang PPG 1 Lab.Mtk FMIPA UNY Oleh Prof. Marsigit, MA. memulai dengan meminta kami untuk berdoa sebelum memulai perkuliahan, kemudian memberitahukan obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Apa yang ada?
Dan apa yang dimaksud yang mungkin ada? Apabila ingin menjelaskan kejadian yang ada dan yang mungkin ada perhitungan semilyar pangkat semilyar lebih pun tak akan cukup untuk mengekspresikannya sifat yang ada dan yang mungkin ada. Salah seorang teman menyebutkan sifat yang ada dan yang mungkin ada adalah “kejadian besok pagi”. Oleh Prof. Marsigit kejadian waktu lampau, dijelaskan kejadian yang ada dan yang mungkin ada setiap orang berbeda (sebut saja Si A dan Si B). Kejadian itu mungkin ada bagi Si A tetapi tidak ada bagi Si B, ada bagi Si A ada bagi Si B
Manusia tidaklah sehebat yang dia kira. Mengapa demikian? Karena mereka tidaklah mengetahui semua yang terjadi di dunia ini. Oleh karena itu tidaklah patut jika menjadi sombong. Apa yang mau disombongkan? Beliau memberikan contoh satu hal yang tidak kami ketahui yaitu tanggal lahir cucunya (kami tertawa, lucu sekali…. Jelaslah kami tidak tahu tanggal lahir cucu beliau, khan kami belum pernah bertemu dan bertanya). Dari contoh tersebut disimpulkan bahwa tidak ada manusia mengetahui segalanya. Apabila manusia diberi anugerah mengetahui segalanya maka manusia tersebut tidak bis hidup, karena kehidupan itulah manusia tidak sempurna. Kejadian yang mungkin ada bagi kami belum tentu ada bagi pak marsigit, kejadian yang ada bagi pak marsigit belum tentu ada bagi kami, dan bisa saja kejadian ada bagi kami dan pak marsigit. Lalu pak marsigit memberitahukan tanggal lahir cucu beliau, yaitu tanggal 24 Desember 2011. Manusia lebih baik dari buataan manusia itu sendiri, karena buatan manusia harus diberi perlakuan setiap saat agar melaksanakan keinginan manusia tetapi manusia tanpa diperintah dan tanpa diminta dapat memenuhi kebutuhannya, itulah cara mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT.
Prof. Marsigit menanyakan kepada Edi, salah satu teman kelas kami, apakah dia masih punya orang tua dan apakah dia pernah menjabat tangannya. Dijelaskan oleh Prof. Marsigit bahwa yang dilihat dan dipegangnya bukanlah bapaknya edi. Manusia yang kamu lihat dan yang kamu pegang bukanlah manusia yang sebenar-benarnya. Karena yang dilihat itu hanya bentuknya, yang dipegang hanya tubuhnya. Itulah ketidaktelitian manusia, salah satu kecerobohan manusia. Karena tidak teliti dan ceroboh itulah yang menyebabkan manusia lemah dan inilah yang membuat manusia hidup. Lalu manusia yang sebenarnya ada dimana? Di hati dan pikiran masing-masing, bahkan dipikiran orang seruangan kelas filsafat. Inilah contoh yang tidak ada dan mungkin ada telah menjadi ada. Kesimpulan kejadian adalah jika ingin berbakti dengan orang tua maka pikirkanlah orangtua (urusan dunia) dan doakanlah mereka (spiritualitas). Manusia hanya bisa melengkapi dan menuju kesempurnaan, maka dari itu hidup adalah menuju kelengkapan, menuju kesempurnaan. Masalah filsafat ada dua yaitu, bagaimana untuk menerima dan bagaimana menjelaskannya. Manusia itu hidup tidak konsisten dalam kekonsistenan dan hidup konsisten dalam ketidakkonsistena. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar