Refleksi Pertemuan ke-2
Perkuliahan
kedua Filsafat Ilmu S2 Program Studi Pendidikan Matematika Kelas B, hari Rabu
tanggal 16 September 2015 di ruang PPG 1 Lab.Mtk FMIPA UNY Oleh Prof.
Marsigit, MA. memulai dengan meminta kami untuk berdoa sebelum memulai perkuliahan,
kemudian memberitahukan obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada.
Apa yang ada?
Dan apa yang dimaksud yang mungkin
ada? Apabila ingin menjelaskan kejadian yang ada dan yang mungkin ada
perhitungan semilyar pangkat semilyar lebih pun tak akan cukup untuk
mengekspresikannya sifat yang ada dan yang mungkin ada. Salah seorang teman
menyebutkan sifat yang ada dan yang mungkin ada adalah “kejadian besok pagi”.
Oleh Prof. Marsigit kejadian
waktu lampau, dijelaskan kejadian yang ada dan yang mungkin ada setiap
orang berbeda (sebut saja Si A dan Si B). Kejadian itu mungkin ada bagi Si A
tetapi tidak ada bagi Si B, ada bagi Si A ada bagi Si B
Manusia
tidaklah sehebat yang dia kira. Mengapa demikian? Karena mereka tidaklah
mengetahui semua yang terjadi di dunia ini. Oleh karena itu tidaklah patut jika
menjadi sombong. Apa yang mau disombongkan? Beliau memberikan contoh satu hal
yang tidak kami ketahui yaitu tanggal lahir cucunya (kami tertawa, lucu
sekali…. Jelaslah kami tidak tahu tanggal lahir cucu beliau, khan kami belum
pernah bertemu dan bertanya). Dari contoh tersebut disimpulkan bahwa tidak ada
manusia mengetahui segalanya. Apabila manusia diberi anugerah mengetahui
segalanya maka manusia tersebut tidak bis hidup, karena kehidupan itulah
manusia tidak sempurna. Kejadian yang mungkin ada bagi kami belum tentu ada
bagi pak marsigit, kejadian yang ada bagi pak marsigit belum tentu ada bagi
kami, dan bisa saja kejadian ada bagi kami dan pak marsigit. Lalu pak marsigit
memberitahukan tanggal lahir cucu beliau, yaitu tanggal 24 Desember 2011. Manusia lebih baik dari buataan manusia
itu sendiri, karena buatan manusia harus diberi perlakuan setiap saat agar
melaksanakan keinginan manusia tetapi manusia tanpa diperintah dan tanpa
diminta dapat memenuhi kebutuhannya, itulah cara mensyukuri nikmat dan karunia
Allah SWT.
Prof.
Marsigit menanyakan kepada Edi, salah satu teman kelas kami, apakah dia masih
punya orang tua dan apakah dia pernah menjabat tangannya. Dijelaskan oleh Prof.
Marsigit bahwa yang dilihat dan dipegangnya bukanlah bapaknya edi. Manusia
yang kamu lihat dan yang kamu pegang bukanlah manusia yang sebenar-benarnya.
Karena yang dilihat itu hanya bentuknya, yang dipegang hanya tubuhnya. Itulah
ketidaktelitian manusia, salah satu kecerobohan manusia. Karena tidak teliti
dan ceroboh itulah yang menyebabkan manusia lemah dan inilah yang membuat
manusia hidup. Lalu manusia yang sebenarnya ada dimana? Di hati dan pikiran
masing-masing, bahkan dipikiran orang seruangan kelas filsafat. Inilah contoh
yang tidak ada dan mungkin ada telah menjadi ada. Kesimpulan kejadian adalah
jika ingin berbakti dengan orang tua maka pikirkanlah orangtua (urusan dunia)
dan doakanlah mereka (spiritualitas). Manusia hanya bisa melengkapi dan
menuju kesempurnaan, maka dari itu hidup adalah menuju kelengkapan, menuju
kesempurnaan. Masalah filsafat ada dua yaitu, bagaimana untuk menerima dan
bagaimana menjelaskannya. Manusia itu hidup tidak konsisten dalam kekonsistenan
dan hidup konsisten dalam ketidakkonsistena.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar